Pages

Sunday, August 29, 2010

Tante Ratna Yang Maniak

Perkenalkan nama saya Budianto,biasa sipanggil budi. Saya karyawan di bilangan Sudirman, usia 28 th dengan tinggi 165 cm dan berat 65 kg. orang bilang saya mempunyai wajah yang lumayan, tidak terlalu sulit bagi saya untuk mendapatkan wanita.
Saya ingin menceritakan pengalaman saya waktu berkenalan dengan permainan seks. Waktu itu sepulang kantor seperti biasa saya pergi ke sport club di bilangan Sudirman juga untuk fitness sambil menunggu jalanan lancar. Dan di tempat fitness tersebut saya berkenalan dengan seorang wanita, sebut saja tante Ratna. Beliau kurang lebih berusia 38 th, mempunyai body yang sexy dengan ukuran dada kurang lebih 36B, tinggi 160 cm dan memakai pakaian olahraga dengan model sport bra dan celana pendek yang sangat pendek, persis dibawah pangkal paha, terlihat otot perutnya yang sudah mulai terbentuk, persis seperti seorang personal trainer.
Tante Ratna ini juga ternyata bekerja di bilangan Sudirman dekat dengan kantor saya, dari tempat fitness itu kami mulai berkenalan dan mulai sering pergi bersama,enatah itu Cuma makan siang atau nonton. Sampai suatu saat tante Ratna mengajak saya untuk pergi clubbing dan setelah itu saya diajak mampir ke Apartmennya. Karena kami sudah begitu akrab maka saya tidak menolak tawarannya.
Sampai didalam apartemen tante Ratna ingin berganti pakaian dan dia lupa menutup pintu kamarnya, dan rupanya tante ratna sengaja tidak menutup pintu kamarnya untuk memancing birahi saya.dan dia mengajak saya masuk kedalam kamarnya,pada saat itu saya sangat terkejut,ternyata body tante ratna memang begitu sexy, badannya sangat padat dan terlihat sedikit berotot dengan dadanya yang sintal,mungkin karena terlalu banyak berolahraga.
Pada saat itu saya hanya bias mematung tetapi tante Ratna dengan penuh birahi mendekati saya dan mulai mencium bibir saya, saya pun membalas dengan penuh birahi, dan hanya dalam hitungan menit kami sudah telanjang bulat didalam kamar, lalu tanpa dikomando saya langsung merangsang tante ratna dengan meremas dan menjilati dada busungnya,setelah puas bermain didaerah dada, saya beralih ke daerah vaginanya dan tante ratna begitu menikmati kuluman saya.begitu juga dengan tante ratna, dia tidak mau kalah dengan memainkan penis saya.
Karena kami sudah tidak tahan makan tante ratna meminta saya untuk segera memesukan penis saya kedalam kemaluannya, ternyata lubang kemaluan tante ratna masih sangat sempit, tapi saya berhasil memasukannya dan kami bermain hampir satu jam lamanya. Saya berhasil membuat tante ratna orgasme 2 x dan dia pun berhasil membuat saya orgasme 1x. dan kami sama sama puas.akhirnya karena sudah sangat lelah kami tertidur dengan kondisi bugil, dan pada esok paginya kejadian tersebut terulang kembali.

Teman Sepupuku Mbak Rika

Aku mempunyai saudara sepupu bernama Monica yang umurnya kurang lebih 45 tahun. Dia sudah menjanda selama tiga tahun. Sekarang dia tinggal di salah satu perumahan yang tidak terlalu besar maupun kecil. Kebetulan anak dari sepupuku ini sudah ditempat kost, karena mereka lebih dekat dari tempat kuliahnya. Aku kadang-kadang mampir ketempatnya, untuk mengobrol maupun mendengar keluh kesah dia, karena dari kecil kami sangat akrab.

Suatu saat aku mampir, terlihat beberapa teman sepupuku yang sedang bertamu. Biasanya aku langsung ke ruang tamu dibelakang, membaca koran, majalah atau menonton televisi. Karena aku pikir mereka sedang mengobrol seputar cowok atau mengenai salon. Lalu aku dipanggil oleh sepupuku untuk diperkenalkan kepada teman-temannya.

“Kenalin nich Mbak Rika dan Mbak Nita” kata sepupuku.

Aku menjabat tangan satu persatu teman sepupuku ini. Karena mereka sepertinya sangat santai sekali cara mengobrolnya, aku agak sungkan lalu aku ke belakang kembali. Kudengar cara mereka bicara seperti anak-anak seumur tujuh belas tahun, mungkin bila di depan anak-anak mereka, tidak begitu cara mereka berbicara. Mereka tinggal di perumahan Bintaro, bila dengar cerita sepupuku Mbak Rika baru enam bulan ini ditinggal oleh suaminya karena kecelakaan pesawat terbang, sedangkan Mbak Nita adalah seorang istri pejabat yang sering ditinggal suaminya keluar negeri. Mbak Rika mempunyai tubuh padat, kulit putih, tinggi kurang lebih 165 cm. Sedangkan Mbak Nita agak langsing dengan payudara yang agak lumayan menonjol serta mempunyai warna kulit yang sama dengan Mbak Rika.

“Mon aku pulang dulu yach, tuch sudah dijemput anakku, masalahnya aku mau ke Bogor ada acara arisan” kata Mbak Nita.
“Lho aku pulang dengan siapa nich” sela Mbak Rika.
“Gampang nanti diantar oleh adik gue” jawab Monica seraya menepuk bahuku.
“Wach enggak ngerepotin nich Mas” kata Mbak Rika kembali.
“Enggak koq Mbak” jawabku.

Lalu aku disuruh menemani Mbak Rika mengobrol, karena sepupuku Monica hendak mandi. Kulihat Mbak Rika memakai rok hitam serta blazer berwarna pink, duduk santai dikarpet membaca majalah sambil meluruskan kakinya. Kulihat begitu bening kulit dipahanya. Lalu kami mengobrol panjang lebar, tapi kulihat dari pandangan Mbak Rika agak sedikit genit, sehingga membuatku pusing juga. Setelah Monica selesai mandi, Mbak Rika mohon pamit.

“Mas tolongin dong, maklum nich sudah tua” sambil minta tolong kepadaku supaya meraih kedua tangannya untuk berdiri.
“Ha ha ha Rika.. Rika.. Makanya minum jamu dong” ledek Monica terhadapnya.
“Aduch.. Koq begini yach pinggangku” jawab Mbak Rika sambil menunduk memegang pinggangnya.
“Nach lho.. Kenapa nich” tanya Monica.
“Enggak tahu nich” jawab Mbak Rika.

Lalu aku tuntun Mbak Rika ke dalam mobil.

“Ok. Mon.. Sampai lusa yach bye.. bye.. ”

Dalam perjalanan Mbak Rika duduk di depan, menemaniku membawa mobil, dia juga minta izin kalau dia mau rebahan sambil menurunkan sandaran jok kebelakang. Kadang kucuri pandang paha Mbak Rika yang agak tersingkap dari roknya.

“Mas sepertinya pinggangku agak salah urat nich saat duduk di karpet tadi”
“Wach itu harus cepat-cepat diurut lho.. Mbak” kataku.
“Tapi mau cari tukang urut dimana, malam-malam begini” kata Mbak Rika.
“Memang anak-anak Mbak enggak ada yang bisa mengurut Mbak?” tanyaku memancing.
“Mereka semua di Jogya Mas, kuliah disana” jawabnya.
“Yach kalau enggak keberatan, aku bisa sich mengurut pinggang Mbak Rika” pancingku lagi.
“Yach udach.. ” jawabnya mengangguk.

Singkat cerita aku menunggu Mbak Rika diruang tamu, karena dia sedang ganti baju sambil membuatkan aku teh manis. Mbak Rika keluar dari ruang tengah sambil membawa cangkir minuman untukku, dengan hanya mengenakan daster yang amat tipis, sehingga secara samar-samar terlihat BH serta celana dalamnya. Wach tambah pusing aku dibuatnya.

“Minum dulu dech Mas” sapa dia.

Lalu aku diajak ke dalam kamar Mbak Rika, untuk diurut.

“Mas bagian sini nich” sambil Mbak Rika mengangkat dasternya hingga kebahunya dalam keadaan terlungkup ditempat tidur.

Memang Mbak Rika ini mempunyai tubuh yang padat, hingga kedua belah bagian pantatnya tampak tersembul ke atas, dan yang lebih gilanya dia memakai celana dalam yang model belakangnya hanya seutas tali yang menyelip diantara kedua belah pantatnya. Tak disangka hari ini aku menikmati pemandangan yang luar biasa indahnya. Lalu aku mengambil minyak dari keranjang yang telah dia sediakan, didalam keranjang itu juga ada beberapa botol alat-alat untuk mandi. Aku mulai menggosok bagian pinggangnya dan kadang-kadang tanganku kusentuh pada bongkahan daging pada kedua belah pantatnya. Dia rupanya sangat menikmati urutan tanganku dipinggangnya, hingga dia terlelap tidur.

“Mbak gimana sudah agak enakan enggak?” tanyaku.
Dia kaget terbangun lalu, dia berkata “Mas bisa tolong sekalian betis kakiku enggak, masalahnya agak pegal-pegal juga nich”
“Yups.. ” jawabku singkat.

Tampak Mbak Rika agak merenggangkan kedua belah kakinya dan tetap dalam posisi terlungkup, tampak sekilas kulihat pinggiran lubang vagina Mbak Rika tersembul diantara celana dalamnya yang memang hanya berbentuk segitiga pada bagian depannya. Aku lalu menukar minyak gosok dengan body oil dalam keranjang diatas meja dekat tempat tidur Mbak Rika. Aku mulai menggosok dari betis ke arah paha dengan melumurkan body oil agak banyak. Terus kuurut kedua belah betis Mbak Rika hingga sampai kedua belah pahanya.

“Mas urutnya agak ditekan sedikit dibagian sini Mas, soalnya pegel amat sich” kata Mbak Rika sambil menunjuk antara paha dan pantatnya dibagian belakang, lalu dia juga membuka tali dari celana dalamnya dan menariknya lalu ditaruhnya dekat bantal dikepalanya. Makin jelas sudah kulihat vagina Mbak Rika dari bagian belakang dan tampaknya bulu-bulu jembutnya dicukur bersih olehnya. Aku mulai menekan pantatnya dengan kedua jempolku, dan kadang-kadang aku sentuh lubang anus Mbak Rika dengan sentuhan halus.

“Och..” tampak Mbak Rika mulai mendesah.

Aku tuang body oil banyak-banyak dikedua bongkahan daging dipantatnya, lalu aku mulai menggosoknya turun naik dari kedua pahanya. Lalu Mbak Rika menyuruhku menaruh body oil ditelapak tanganku, lalu dipegangnya tanganku dan ditaruh disela-sela lubang kemaluannya.

“Mas tolong gosok dibagian ini yach Mas” pintanya.

Lalu aku mulai menggosok bibir kemaluannya mulai dari lubang anus Mbak Rika.

“Och.. Mas teruskan Mas.. Och.. ”

Kulihat Mbak Rika mulai terangsang oleh sentuhan-sentuhan kelima jariku. Tanpa buang waktu sambil menggosok body oil kumasukan jari tengahku ke dalam lubang kemaluannya, terus kulalukan beberapa kali, dan kulihat kedua tangan Mbak Rika meramas keras sprei ditempat tidurnya. Tiba-tiba Mbak Rika bangun dari tempat tidurnya lalu menyerangku dengan ciuman dibibirku sambil mempermainkan lidahnya. Dan dia berbisik.

“Mas aku buka bajunya yach”

Aku hanya mengangguk tanda setuju. Dilepaskannya baju dan celanaku, hingga tak selembarpun benang menempel ditubuhku.

“Daster Mbak aku buka juga yach”

Diapun mengangguk setuju. Aku disuruhnya duduk disamping tempat tidurnya, lalu disodorkan kedua belah buah dadanya kemulutku, dan aku sambut dengan melumat kedua belah bongkahan daging kenyal didadanya. Tangan kananku juga sudah bermain disekitar vagina Mbak Rika, tampaknya bekas body oil yang tadi sudah bercampur dengan cairan bening dilubang kemaluan Mbak Rika. Dia makin mendekap kepalaku kedadanya, dan kadang-kadang pinggulnya menghentak-hentak ke arahku, saat jari-jariku keluar masuk ke dalam lubang kemaluannya.

Lalu dia jongkok dihadapanku dan mulai memasukan penisku ke dalam mulutnya, tampak penisku hilang ditelan oleh gumulan mulutnya hingga masuk menyentuh tenggorokannya. Rasa nikmat mulai menjalar keubun-ubun kepalaku. Lalu dia permainkan lidahnya pada ujung bagian bawah penisku. Wach sangat pintar sekali pikirku Mbak Rika ini cara merangsang laki-laki.

“Mas mau khan gantian” pintanya.

Aku mengerti bahwa Mbak Rika minta dijilati vaginanya. Lalu dia mengambil handuk kecil, disemprotnya handuk tersebut dengan minyak wangi, yang kutahu bukan minyak wangi lokal, lalu dibersihkan selangkangannya dengan handuk tersebut. Lalu diapun tidur terlentang dengan mengganjal pantatnya dengan dua buah bantal tidurnya. Maka tampak jelas lubang kemaluan Mbak Rika yang telah mempunyai bibir disisi kanan kirinya dengan warna merah kecoklat-coklatan. Dan tampak pula lubang anus Mbak Rika yang sudah berwarna coklat tua, pasti dia pernah bermain anal sex juga nich pikirku. Dan memang tidak terlihat sehelai rambutpun disekitar kemaluan dan anusnya.

Lalu aku mulai jilat bibir kemaluan Mbak Rika, dan memang tidak tercium bau yang aneh-aneh, berarti memang Mbak Rika sangat rajin merawat tubuhnya. Dia mulai menggelinjang diatas tempat tidurnya, saat kusapu kemaluannya dengan lidahku. Lalu aku oleskan telunjukku dengan body oil, dan kumasukan pelan-pelan ke dalam lubang anusnya, berbarengan dengan lidahku mempermainkan kelentitnya.

“Och.. Och.. Och..!!”

Tampak teriakan Mbak Rika sepertinya tidak menghiraukan akan ada orang lain yang mendengarkannya.

“Teruskan Mas.. Jangan berhenti.. Och.”

Terus kupermainkan kedua lubang Mbak Rika, akhirnya dia memintaku untuk memasukkan penisku ke dalam lubang kemaluannya. “Mas.. Pakai kondom yach.., itu ambil didalam laci”

Ternyata didalam laci kulihat bukan hanya kondom, tetapi ada beberapa penis yang terbuat dari karet elastis juga terdapat didalamnya. Setelah kupakai kondom, kumasukan penisku ke dalam kemaluannya, langsung aku hentak keras beberapa kali lubang kemaluannya. Iapun mengimbangi dengan mengangkat pantatnya tinggi-tinggi, terus kulakukan permainan keras tersebut selama tiga puluh menit, hingga kulihat Mbak Rika tidak lagi melakukan perlawanan. Sedangkan penisku belum ada tanda-tanda mau mengeluarkan pejunya, lalu aku cabut penisku dari lubang kemaluan Mbak Rika. Perlahan-lahan aku masukan ke dalam lubang anus Mbak Rika sambil meneteskan body oil dibagian atas penisku.

“Pelan-pelan Mas..”

Terus aku tekan penisku hingga terpendam habis dilubang anus Mbak Rika, dan pelan-pelan juga aku tarik, lalu aku masukan kembali, sampai Mbak Rika tidak membuat reaksi tanda sakit dilubang anusnya. Aku mulai menggenjot tanpa henti penisku ke dalam lubang anusnya, dan karena tidak selonggar lubang kemaluan Mbak Rika, pejuku mulai berlomba-lomba ingin keluar.

Dan saat pejuku hendak muncrat kutekan penisku dalam-dalam sambil mencium bibir dan merangkul tubuh Mbak Rika kuat-kuat. Setelah itu aku terkulai disisi tubuh Mbak Rika. Dan kulihat Mbak Rika mencabut kondomku lalu membersihkan penisku dengan handuk kecilnya. Lalu iapun merangkul diriku, sambil berbisik.

NIKMAT KERJA DI HOTEL

“hai abang!” terdengar satu suara yang sangat kukenali menyapaku dari belakang. Saatku berpaling ku lihat Ella sedang berjalan ke arahku. Ella menghulur tangannya lalu kusambut dan bersalaman terus dicium tanganku. Memang kebiasaan kami bersalam Ella akan mencium tanganku tanda hormatnya padaku yang menjadi abang angkatnya sejak setahun yang lalu.

“haa…ingatkan tak datang…” kataku seraya menghulurkan kain pario(kain batik yang sering dipakai untuk bersantai di pantai) berwarna hitam kepadanya.

“eh…kena pakai ni?” Tanya Ella.
“ya, temanya pun ‘beach nite’ kan?” jawabku.

Malam ini adalah malam tahun baru 2007. setiap tahun hotelku mengadakan acara yang sedikit meriah untuk menyambut tahun baru. Aku sebagai bar tender di pub dalam hotel ini sedari pagi sudah sibuk membuat persiapan. Ella dan beberapa waitress di restoran ku minta datang pada pukul 9 pm sebagai back up kerana aku tahu malamnya pasti sibuk dan kaptenku Noni pasti membutuhkan bantuan.

“oklah..” jawab Ella setelah ku tegaskan bahawa waitress mesti mengenakan kain pario pada malam itu. Ella kemudiannya keluar membawa kain pario tersebut dan kembali tak berapa lama.

“bang, tolong simpankan seluar jeans Ella ni” Ella menghulurkan jeans biru yang dikenakan tadi.

“Ella tak bawa seluar tight, pakai CD aja”

Sambil berdiri di sebelahku Ella menunujukkan belahan kain parionya yang hanya diikat di bahagian pinggul. Ikatannya berada di sebelah kiri pinggulnya dan jika ia melangkah maka terlihatlah peha mulus miliknya hingga ke pangkalnya. Aku dengan bersahaja menyelak sedikit belahan parionya hingga terlihat CD Ella yang berwarna merah. Ella hanya membiarkan kelakuanku membuatku lebih berani mengelus lembut pantatnya.

Aku memandang wajah Ella sambil tersenyum. Ella membalas senyumanku dengan raut wajah yang tidak ku fahami.

“it”s ok, dalam pub ni gelap. Orang tak nampak.” Kataku setelah ku tarik kembali tanganku dari dalam parionya.

Ella hanya tersenyum kemudian meninggalkanku di dalam bar menuju ke ruangan tangah pub di mana dia akan ditugaskan. Aku memandang Ella dari belakang. Goyangan pinggulnya sangat menggoda. Kerana itulah aku sering meraba pantatnya. Tetapi hanya sebatas itu. Aku tidak berani berlebih-lebih. Ella juga tidak pernah memarahi perbuatanku meraba pantatnya. Seringkali juga ku ramas-ramas pantatnya kerana tidak tahan. Ella hanya tertawa melayan gelagatku.

Ella memang berani dari segi pemakaian. Celana jeans ketat dan t-shirt ketat belahan dada rendah memang selalu dikenakannya. Berkulit putih gebu, buah dada yang agak besar bagiku, berwajah manis keturunan bugis dan pantatnya yang sering membuat penisku mengeras. Ella memang cantik. Aku bangga mempunyai adik angkat secantik Ella. Seringkali juga Ella menceritakan padaku beberapa orang manager hotel tempat kami bekerja menggodanya. Pernah satu hari Vincent yang terkenal dengan sikap kurang ajar itu meraba pantatnya, kemudian Ella memaki hamun kepada orang tua tak sedar diri itu yang membuatnya tersentak dan malu sewaktu lunch break di café hotel. Tapi aneh, Ella tidak pernah memarahiku jika pantatnya kuraba dan ku ramas sesuka hati.

Jam 11pm pub mulai penuh dengan pengujung. Aku jadi sibuk menyediakan minuman yang dipesan. Berpuluh gelas cocktail dan 2 barrel beer membuatku sedikit berpeluh. Dan ketika jam menunjukkan 12 tengah malam, suasana di dalam pub semakin bising dan riuh. Ketika itulah Ella menghampiriku.

“happy new year!” katanya. Yang membuatku terkejut ialah Ella mencium pipiku yang tak pernah dilakukan sebelum ini. Apalagi di hadapan khalayak ramai.

“happy new year” balasku.

“kenapa cium di pipi? Kalau di bibir kan lebih syok” sambungku sekadar niat mengusik. Tanpaku duga Ella menarik tanganku dan kami keluar ikut pintu belakang pub. Sampai di belakang Ella hanya diam menatapku penuh erti. Aku mengerti kemahuannya cuma dia malu. Lalu dengan pantas ku raih wajahnya mendekati wajahku. Bibir kami bertemu saling berkucupan dengan ganas. Tak ku sangka Ella sangat handal bertarung lidah. Lidahku terasa disedut-sedut ke dalam mulutnya yang mungil. Aku tidak mahu kalah dan ku balas sedutan lidahnya.

Setelah lima minit aksi bercium kami lakukan, kami sama-sama berhenti dan saling menatap wajah masing-masing. Kami seperti dapat merasakan gejolak yang membara di dalam diri. Kemudian kerana belum puas ku rangkul pinggangnya dari hadapan menarik tubuhnya rapat ke tubuhku dan melumat bibirnya kembali. Ella membalasnya dengan rakus sambil nafasnya kedengaran bertambah berat. Kali ini tanganku tidak tinggal diam. Ku ramas kedua-dua belah pantatnya. Kemudian ku singkap parionya ke atas lantas kembali meraba pantatnya yang bulat dan besar yang masih ditutup CD. Aku pindahkan ciuman dan jilatanku kearah lehernya.

“ohh…mmm…abg…hhh” desahan lembut keluar dari mulut Ella.

Aku semakin berani memasukkan tanganku ke dalam Cdnya dan meramas pantatnya dari dalam CD. Ku julurkan jari tengah kearah belahan pantatnya. Kumainkan jariku sebentar di lubang anusnya sebelum menuju ke vagina Ella. Tangan Ella juga tidak tinggal diam. Sebelah tangannya memeluk tubuhku, manakala yang sebelahnya menggosok penisku yang sudah mengeras dari luar celana. Sungguh nikmat kurasakan tangan lembutnya mengelus penisku.

Aku sudah tidak memikirkan bahawa ketika itu kami masih lagi dalam waktu bekerja. Jariku sedari tadi sudah memasuki liang vagina Ella yang basah akibat kenikmatan yang kuberikan. Cdnya sudah kuturunkan sebatas pehanya. Setelah puas menyerang vaginanya, ku pindahkan kedua-dua tanganku menuju ke arah dua bukit nikmat di dadanya. Ku singkapkan t-shirt putihnya ke atas sehingga menampakkan buah dadanya yang dibaluti bra half cup berwarna hitam. Tanganku lantas menuju belakang tubuhnya mencari kaitan branya, dan dengan sekali sentap terlepaslah kaitan branya. Tanpa buang masa tanganku dengan agak keras meramas buah dada yang menjadi pujaanku selama ini. Sambil bibirnya kembali kulumat dengan bibirku, ku picit-picit kedua-dua putingnya yang mengeras.

“aahh…abg…mmmhhh…ohhh…” desah Ella diselangi dengan cumbuannya yang sekarang sudah berpindah ke leherku. Kadang disedut dan digigitnya leherku yang pasti meninggalkan kesan merah. Aku tidak mempedulikan itu semua. Apa yang ada di benakku ialah untuk memenuhi tuntutan berahiku saat ini dengan seorang gadis cantik yang sedang berada dalam taklukanku. Serangan bibir dan lidahku kuarahkan kearah dadanya yang sangat indah itu. Kujilat, kusedut, dan ku gigit semahunya kedua-dua puting merah kecoklatan itu bergilir-gilir. Serangan-serangan nikmat yang ku lancarkan membuat Ella menjerit kecil dan menekan kepalaku ke arah dadanya.

“abg…sakit…ohh sedapnya…aawww…” tidak karuan lagi desahan dan rintihan Ella yang membuatku lebih teransang.

Tiba-tiba kurasakan penisku sudah tidak berada di dalam sarangnya. Entah sejak bila Ella membuka celanaku mungkin kerana aku keasyikan menikmati tubuh gebu milik Ella sehingga tidak sedar celana panjang dan celana boxerku sudah separas lutut. Ella dengan lembut memegang dan mengocok penisku. Berdesir darahku menahan nikmat kocokan tangan halus Ella yang semakin rancak menjalankan tugasnya. Penisku berukuran biasa, tidak seperti yang sering kubaca di dalam cerita-cerita lain di mana penisnya seperti saiz orang America atau Eropah. Terang-terangan membohong.

“Ella, hisap sayang…” bisikku ke telinganya. Aku ingin sekali merasakan sentuhan bibirnya yang sangat seksi itu dan menguji setahap mana servis oralnya.

Ella mencangkung di hadapanku sambil tangannya terus memegang dan mengocok lembut penisku. Mulai dari jilatan pada pangkal penisku menyusuri batangnya dan terus ke bahagian kepala penisku. Diulangnya beberapa kali sebelum mula mengulum penisku. Perlahan namun nikmatnya sukar untuk kugambarkan dalam cerita ini. Dari atas ku lihat pandangan yang cukup erotis dimana seorang gadis berwajah cantik sedang memberi oral seks. Setelah kurasakan puas dengan kuluman mulut Ella, ku tarik tubuhnya berdiri dan bibir kami bergelut kembali tetapi tidak lama kerana aku sudah tidak sabar untuk merasai kehangatan vagina Ella. Aku menyuruhkan berpaling membelakangiku dan sedikit membongkok. Tangannya menahan pada dinding. Segera kugeselkan penisku ke permukaan vaginanya yang terasa banjir. Perlahan-lahan ku dorong pinggulku, hanya kepala penisku yang masuk kerana vagina Ella terasa sangat sempit.

“aduh…tunggu bang…tahan dulu…eerghh” Ella menahan sakit memintaku berhenti seketika. Aku turutkan kemahuannya kerana aku memang tidak suka memaksa.

“tahan ya sayang..” kali ini aku tekan sedikit keras dan hasilnya setengah batang penisku berjaya memasuki liang vaginanya. Kudiamkan sebentar untuk membolehkan dinding vaginanya menerima kehadiran penisku. Setelah nafasnya kembali tersusun Ella meminta aku memasukkan seluruh batang penisku ke liang nikmat miliknya.

“lagi bang…masuk lagi…adik boleh tahan…ohh…” kata-katanya tersekat kerana aku menyentakkan pinggulku sehingga rapat ke pantatnya.

“aahh..ella…sedapnyaa…” erangku tak mampu lagi menahan sensasi yang kurasakan.

Penisku tersasa dikepit erat oleh dinding vagina Ella. Ella memang bukan perawan lagi tetapi tidak pernah melakukan hubungan seks setelah perawannya direnggut mantan kekasihnya tidak lama dahulu. Perlahan-lahan aku menggerakkan pinggulku dengan gerakan sorong-tarik. Sungguh mengasyikkan menikmati geseran lubang vagina Ella yang sempit. Makin lama makin cepat gerakan pinggulku sehingga kedengaran bunyi gerlaga tubuhku dengan pantat Ella. Aku mengamati saat-saat pelanggaran tubuhku dengan pantatnya, sesungguhnya aku amat suka melihat pantat besar milik Ella bergetar menerima tusukan-tusukan keras dariku

“aahhh…aahh…abang…ohh…mmmppphhh…sedap bang…” Ella kembali meracau setelah kesakitan vaginanya bertukar menjadi nikmat yang sangat membuatnya teransang hebat.

“sedap sayang?” tanyaku sambil tanganku meraih ke hadapan tubuhnya lalu meramas kedua-dua buah dadanya.

“sedap bang…oohh lagi bang…laju lagiii…aaarrggghhh…” erangan keras keluar dari mulut Ella mengiringi orgasme yang melanda dirinya. Kakinya dirapatkan, tubuhnya bergetar hebat dan hampir jatuh. Mujur aku sempat menahan tubuhnya daripada jatuh. Ku biarkan Ella menikmati orgasmenya tanpa menarik keluar penisku.

“abang…Ella puas bang…kalau Ella tahu yang abang pandai membuat Ella macam ini, dari dulu lagi Ella minta…” ujarnya setelah dia dapat mengawal dirinya.
“abang belum sampai ni sayang..” kataku tertahan tak sanggup lagi aku menunggu lama lalu ku tarik penisku keluar dan memalingkan tubuh Ella menghadap ke arah ku. Aku lihat terdapat sedikit linangan airmata di wajahnya.

Lalu aku angkat sebelah kakinya melingkar di pinggulku dan mengarahkan penisku menuju vaginanya. Kedua belah tangannya memegang bahuku menahan tubuhnya. Lalu kuteruskan permainan yang belum sudah dengan gerakan yang cepat. Kembali Ella merintih kuat. Bibirku mencari bibirnya yang mungil lalu sambil ku pompa penisku kami berkucupan. Setelah lebih kurang sepuluh minit kurasa spermaku ingin keluar lalu kupercepatkan tusukanku dan tusukan terakhir yang keras sedalam-dalamnya ke dalam liang vagina Ella. Rupanya Ella juga menikmati puncaknya ketika itu.

“aarrgghh abang sampai…” hanya itu yang keluar dari mulutku. Begitu banyaknya spermaku kucurahkan ke dalam vagina Ella sehingga sebahagiannya meleleh keluar membasahi pehanya.

“maaf, abang keluar di dalam” risau juga kerana takut Ella hamil.

“ tak apa bang, Ella baru dua hari lepas tamat period” jelas Ella yang membuatku lega.

Kami kemudian merapikan pakaian, lalu aku masuk kembali ke dalam pub seperti tidak berlaku apa-apa. Manakala Ella menuju ke tandas untuk membersihkan vagina dan pehanya. Sesampai di dalam bar aku meneguk segelas bir kerana kehausan. Kemudian, Lia cashier di pub itu menghampiriku lalu berdiri rapat di sebelahku. Tangannya memeluk pinggangku. Memang Lia manja denganku dan perlakuan seperti ini sudah biasa bagiku namun apa yang diucapkannya membuat jantungku seperti berhenti.

“abang berani betul ya main di belakang sana…”

“Lia nampak?” aku lihat Lia melihat ke arahku dengan mata yang tajam.

“tadi semasa Lia hendak ke tandas, Lia buka pintu dan nampak abang dengan Ella…” Lia tidak meneruskan kata-katanya. Tangannya lantas menggenggam penisku dari luar celanaku. Terasa ngilu kerana baru habis bertempur.

“lain kali giliran Lia pula yaa…” katanya sambil menghadiahkan satu kucupan lembut di bibirku.

“mm…ya..ya..” kataku gugup kerana tidak menyangkakan hal tersebut.

Lia kemudian melepaskan genggaman tangannya pada penisku dan menuju ke kaunter cashier. Nanti pula akan kuceritakan kisahku dengan Lia yang bagiku sangat mengasyikkan.

Pelajaran paling membekas dari guruku

aku akan menceritakan pengalaman berharga dalam hidupku ini.pada pagi itu cuaca cerah membuka langkahku menuju sekolah smp ku yg terletak di daerah ramai ibukota.namaku iwan,remaja smp berumur 14 tahun.sekilas tentang diriku,aku anak semata wayang,ekonomi keluargaku biasa saja,ayahku orang bisnis sementara ibuku seorang pegawai di salah satu perusahaan di ibu kota.oleh sebab orangtuaku sibuk,aku tumbuh menjadi anak yg merindukan kasih sayang orangtua.untunglah masih ada pembantu yg menemaniku di rumah dan guruku yg menyayangiku di sekolah ku,bu ersha namanya.kusingkat ceritaku,tepat pukul 11.00 wib pelajaran berganti ke pelajaran biologi.inilah yg kutunggu pada hari sabtu ini,pelajaran guru idamanku bu ersa.tak lama berselang bel berbunyi,bu ersa datang ke hadapan siswa 9B ini.wajahnya tersenyum,cantik sekali dan diimbangi oleh gunung kembar tak berhutan yg mengembung tepat kedepan.mungkin payudaranyalah yg paling menonjol di tubuh seorang guru biologi nan seksi.”oke anak anak sekarang ibu akan mengadakan ulangan bab berkembang biak mahluk hidup”,anak anak serontak terdiam lemas.boleh dibilang aku memang tidak pintar dalam mata pelajaran ini,tapi aku selalu lolos ujian berkat teman temanku yg membantuku.kembali kusingkat,selesai lah ulangan ini sementara ibu sedang memeriksa hasil ulangan kami.aku sendiri menggerutu pada teman temanku karena mereka pelit tidak memberi aku jawaban ulangan ini.”iwan,nanti pulang sekolah ibu akan beri kamu les tambahan supaya kamu mendapat hasil yg lebih baik”jawabnya sambil membagikan kertas ulanganku yg mendapat nilai 40.”baik bu”jawabku sebelum bel pulang berbunyi.teman temanku menertawaiku karena hanya aku saja yg kena les tambahan lalu mereka pulang.”iwan sebelum les dimulai,ibu ingin kamu bertanya tentang apa yg kamu tidak tau di bab ini” “ini bu,cara berkembang biak manusia” “memang nya mana yg susah”jawabnya sambil membungkuk melihat bukuku.saat itulah aku melihat isi dari bajunya.payudaranya mengayun ayun.darahku berdesir melihat jelas 30cm dari hidungku.namun aku tidak melihat bra nya.”hey iwan ngeliat apa kamu”jawabnya halus.kami saling bertatap muka.”eh yg ini bu”tangan ku tdk sengaja menunjuk kata yg digaris bawahi “oh,kamu ga tau artinya sperma ya”.aku terkaget melihat kata yg tdk sengaja ku tunjuk.”iwan iwan,masa kamu udah besar ga tau sperma sih,ituloh cairan yg apabila nempel di rahim wanita bisa bikin dia punya anak”.sebenernya sich aku tau artinya dari dulu karna aku tiap hari liat film bokep.”bu,sperma itu dari mana sih”tanyaku.ibu terdiam melihat keluar mungkin untuk memastikan tdk ada orang di sekitar kelas ini.”ni ibu kasih conto tapi sekarang buka celana mu”.kubuka celanaku dan celana dalamku sehingga terpampang penisku 14cm yg ditumbuhi bulu halus menegang.terlihat nafas ibu terengah engah dan mukanya memerah.dia berjongkok di depan penisku.”emh,ibu sekarang mau kasih conto ke iwan tentang sperma”.tiba tiba dia mengulum penisku.”ah,ibu mau apa”tanyaku.dia tidak menjawab.ibu ersa menggigit kecil penisku sambil memaju mundurkan mulutnya yg tebal.aku mendesah kenikmatan.tak lama kemudian aku orgasme.”em enak banget kontol kamu wan,,,nih ini namanya sperma”sambil menjilat air maniku yg meleleh.”nah,kalo sperma kamu masuk memek misalnya ibu,nih kaya gini”sambil membuka celananya yg tanpa cd dan duduk dikontolku.lalu dia memaju mundurkan penisku yg masih lemah namun perlahan mengeras.dia menggoyangkan dgn kasar sehingga menimbulkan suara khas.”uh,ibu pengen banget tiap hari kaya gini tapi ibu ga bisa” “ah ah ah,emh memangnya kenapa bu” “suami ibu sibuk”.tak terasa tiba tiba aku orgasme “bu,aku pengen kencing” “didalem aja yah honey” crot crot crot dan lemahlah tubuhku.”makasih yah wan,kamu bisa ga besok gini lagi,plisss bisa ya honey” “baik bu iwan juga seneng ada yg memperhatikan iwan daripada ortu iwan yg sibuk” “makasih yah”.waktu itu ibu ersa hanya memakai baju atas saja,sehingga aku penasaran ingin membukanya dan benar saja dia tidak pake bra dan cd setiap ke sekolah lalu kujilati toketnya sambil kontol ku masih menancap di lubah surganya.kulihat kebawah kursi yg basah oleh air surga ku dan bu ersa.kami melakukan itu sampai sore dan pulang kerumahnya untuk melakukan lagi.

Janda Muda

Peristiwa itu bermula ketika aku berkeinginan untuk mencari tempat kos-kosan di Surabaya. Pada saat itu, pencarian tempat kost-kostan ternyata membuahkan hasil. Setelah aku menetap di tempat kost-kostan yang baru, aku berkenalan dengan seorang wanita, sebut saja namanya Varia. Usia Varia saat itu baru menginjak 30 tahun dengan status janda Tionghoa beranak satu.
Perkenalanku semakin berlanjut. Pada saat itu, aku baru saja habis mandi sore. Aku melihat Varia sedang duduk-duduk di kamarnya sambil nonton TV. Kebetulan, kamarku dan kamarnya bersebelahan. Sehingga memudahkanku untuk mengetahui apa yang diperbuatnya di kamarnya.
Dengan hanya mengenakan handuk, aku mencoba menggoda Varia. Dengan terkejut ia lalu meladeni olok-olokanku. Aku semakin berani mengolok-oloknya.
Akhirnya ia mengejarku. Aku pura-pura berusaha mengelak dan mencoba masuk ke kamarku. Eh.. ternyata dia tidak menghentikan niatnya untuk memukulku dan ikut masuk ke kamarku.
“Awas kau.. entar kuperkosa baru tahu..” gertaknya.
“Coba kalau berani..” tantangku penuh harap.
Aku menatap matanya, kulihat, ada kerinduan yang selama ini terpendam, oleh jamahan lelaki. Kemudian, tanpa dikomando ia menutup kamarku. Aku yang sebenarnya juga menahan gairah tidak membuang-buang kesempatan itu.
Aku meraih tangannya, Varia tidak menolak. Kemudian kami sama-sama berpagutan bibir. Ternyata, wanita cantik ini sangat agresif. Belum lagi aku mampu berbuat lebih banyak, ternyata ia menyambar handuk yang kukenakan. Ia terkejut ketika melihat kejantananku sudah setengah berdiri. Tanpa basa-basi, ia menyambar kejantananku serta meremas-remasnya.
“Oh.. ennaakk.. terussh..” desisanku ternyata mengundang gairahnya untuk berbuat lebih jauh. Tiba-tiba ia berjongkok, serta melumat kepala kontolku.
“Uf.. Sshh.. Auhh.. Nikmmaat..” Ia sangat mahir seperti tidak memberikan kesempatan kepada untuk berbuat tanya.
Dengan semangat, ia terus mengulum dan mengocok kontolku. Aku terus dibuai dengan sejuta kenikmatan. Sambil terus mengocok, mulutnya terus melumat dan memaju-mundurkan kepalanya.
“Oh.. aduhh..” teriakku kenikmatan.
Akhirnya hampir 10 menit aku merasakan ada sesuatu yang mendesak hendak keluar dari kontolku.
“Oh.. tahann.. sshh. Uh.. aku mau kkeluaar.. Oh..”
Dengan seketika muncratlah air maniku ke dalam mulutnya. Sambil terus mencok dan mengulum kepala kontolku, Varia berusaha membersihkan segala mani yang masih tersisa.
Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Varia tersenyum. Lalu aku mencium bibirnya. Kami berciuman kembali. Lidahnya terus dimasukkan ke dalam mulutku. Aku sambut dengan mengulum dan menghisap lidahnya.
Perlahan-lahan kejantananku bangkit kembali. Kemudian, tanpa kuminta, Varia melepaskan seluruh pakaiannya termasuk bra dan CDnya. Mataku tak berkedip. Buah dadanya yang montok berwarna putih mulus dengan puting yang kemerahan terasa menantang untuk kulumat. Kuremas-remas lembut payudaranya yang semakin bengkak.
“Ohh.. Teruss Ted.. Teruss..” desahnya.
Kuhisap-hisap pentilnya yang mengeras, semnetara tangan kiriku menelusuri pangkal pahanya. Akhirnya aku berhasil meraih belahan yang berada di celah-celah pahanya. Tanganku mengesek-geseknya. Desahan kenikmatan semakin melenguh dari mulutnya. Kemudian ciumanku beralih ke perut dan terus ke bawah pusar. Aku membaringkan tubuhnya ke kasur. Tanpa dikomando, kusibakkan pahanya. Aku melihat vaginanya berwarna merah muda dengan rumput-hitam yang tidak begitu tebal.
Dengan penuh nafsu, aku menciumi memeknya dan kujilati seluruh bibir kemaluannya.
“Oh.. teruss.. Ted.. Aduhh.. Nikmat..”
Aku terus mempermainkan klitorisnya yang lumayan besar. Seperti orang yang sedang mengecup bibir, bibirku merapat dibelahan vaginanya dan kumainkan lidahku yang terus berputar-putar di kelentitnya seperti ular cobra.
“Ted.. oh.. teruss sayangg.. Oh.. Hhh.”
Desis kenikmatan yang keluar dari mulutnya, semakin membuatku bersemangat. Kusibakkan bibir kemaluannya tanpa menghentikkan lidah dan sedotanku beraksi.
“Srucuup-srucuup.. oh.. Nikmat.. Teruss.. Teruss..” teriakannya semakin merintih.
Tiba-tiba ia menekankan kepalaku ke memeknya, kuhisap kuat lubang memeknya. Ia mengangkat pinggul, cairan lendir yang keluar dari memeknya semakin banyak.
“Aduhh.. Akku.. keluuaarr.. Oh.. Oh.. Croot.. Croot.”
Ternyata Varia mengalami orgasme yang dahsyat. Sebagaimana yang ia lakukan kepadaku, aku juga tidak menghentikan hisapan serta jilatan lidahku dari memeknya. Aku menelan semua cairan yang kelyuar dari memeknya. Terasa sedikit asin tapi nikmat.
Varia masih menikmati orgasmenya, dengan spontan, aku memasukkan kontolku ke dalam memeknya yang basah. Bless..
“Oh.. enakk..”
Tanpa mengalami hambatan, kontolku terus menerjang ke dalam lembutnya vagina Varia.
“Oh.. Variaa.. sayang.. enakk.”
Batang kontolku sepeti dipilin-pilin. Varia yang mulai bergairah kembali terus menggoyangkan pinggulnya.
“Oh.. Ted.. Terus.. Sayang.. Mmhhss..”
Kontolku kuhujamkan lagi lebih dalam. Sekitar 15 menit aku menindih Varia.. Lalu ia meminta agar aku berada di bawah.
“Kamu di bawah ya, sayang..” bisiknya penuh nikmat.
Aku hanya pasra. Tanpa melepaskan hujaman kontolku dari memeknya, kami merobah posisi. Dengan semangat menggelora, kontolku terus digoyangnya. Varia dengan hentakan pinggulnya yang maju-mundur semakin menenggelamkan kontolku ke liang memeknya.
“Oh.. Remas dadaku.. Sayaangg. Terus.. Oh.. Au.. Sayang enakk..” erangan kenikmatan terus memancar dari mulutnya.
“Oh.. Varia.. terus goyang sayang..” teriakku memancing nafsunya.
Benar saja. Kira-kira 15 menit kemudian goyang pinggulnya semakin dipercepat. Sembari pinggulnya bergoyang, tangannya menekan kuat ke arah dadaku. Aku mengimbanginya dengan menaikkan pinggulku agar kontolku menghujam lebih dalam.
“Tedii.. Ah.. aku.. Keluuaarr, sayang.. Oh..”
Ternyata Varia telah mencapai orgasme yang kedua. Aku semakin mencoba mengayuh kembali lebih cepat. Karena sepertinya otot kemaluanku sudah dijalari rasa nikmat ingin menyemburkan sperma.
Kemudian aku membalikkan tubuh Varia, sehingga posisinya di bawah. Aku menganjal pinggulnya dengan bantal. Aku memutar-mutarkan pinggulku seperti irama goyang dangdut.
“Oh.. Varia.. Nikmatnya.. Aku keluuarr..”
Crott.. Crott.. Tttcrott.
Aku tidak kuat lagi mempertahankan sepermaku.. Dan langsung saja memenuhi liang vagina Varia.
“Oh.. Ted.. kau begitu perkasa.”
Telah lama aku menantikan hal ini. Ujarnya sembari tangannya terus mengelus punggungku yang masih merasakan kenikmatan karena, Varia memainkan otot kemaluannya untuk meremas-remas kontolku.
Kemudian, tanpa kukomando, Varia berusaha mencabut kontolku yang tampak mengkilat karena cairan spermaku dan cairan memeknya. Dengan posisi 69, kemudian ia meneduhi aku dan langsung mulutnya bergerak ke kepala kontolku yang sudah mulai layu. Aku memandangi lobang memeknya. Varia terus mengulum dan memainkan lidahnya di leher dan kepala kontolku. Tangan kanannya terus mengocok-ngocok batang kontolku. Sesekali ia menghisap dengan keras lobang kontolku. Aku merasa nikmat dan geli.
“Ohh.. Varia.. Geli..” desahku lirih.
Namun Varia tidak peduli. Ia terus mengecup, mengulum dan mengocok-ngocok kontolku. Aku tidak tinggal diam, cairan rangsangan yang keluar dari vagina varia membuatku bergairah kembali. Aku kemudian mengecup dan menjilati lobang memeknya. Kelentitnya yang berada di sebelah atas tidak pernah aku lepaskan dari jilatan lidahku. Aku menempelkan bibirku dikelentit itu.
“Oh.. Ted.. nikmat.. ya.. Oh..” desisnya.
Varia menghentikan sejenak aksinya karena tidak kuat menahan kenikmatan yang kuberikan.
“Oh.. Terus.. Sss.” desahnya sembari kepalanya berdiri tegak.
Kini mememeknya memenuhi mulutku. Ia menggerak-gerakkan pinggulnya.
“Ohh.. Yaahh. Teruss.. Oh.. Ooohh” aku menyedot kuat lobang vaginanya.
“Ted.. Akukk ohh.. Keluuaarra.. Ssshhss..”
Ia menghentikan gerakannya, tapi aku terus menyedot-nyedot lobang memeknya dan hampir senmua cairan yang keuar masuk kemulutku. Kemudian dengan sisa-sisa tenaganya, kontolku kembali menjadi sasaran mulutnya. Aku sangat suka sekali dan menikmatinya. Kuakui, Varia merupakan wanita yang sangat pintar membahagiakan pasangannya.
Varia terus menghisap dan menyedoti kontolku sembari mengocok-ngocoknya. Aku merasakan nikmat yang tiada tara.
“Oh.. Varia.. Teruss.. Teruss..” rintihku menahan sejuta kenikmatan. Varia terus mempercepat gerakan kepalanya.
“Au.. Varia.. Aku.. Keluuarr.. Oh..”
Croott.. Croott.. Croot..
Maniku tumpah ke dalam mulutnya. Sementara varia seakan tidak merelakan setetespun air maniku meleleh keluar.
“Terimakasih sayang..” ucapku..
Aku merasa puas.. Ia mengecup bibirku.
“Ted.. mungkinkah selamanya kita bisa seperti ini. Aku sangat puas dengan pelayananmu. Aku tidak ingin perbuatan ini kau lakukan dengan wanita lain. Aku sangat puas. Biarlah aku saja yang menerima kepuasan ini.” Aku hanya terdiam.
Sejak saat itu, aku sering meniduri di kamarnya, selalu dalam keadaan telanjang bulat, terkadang dia juga tidur di dalam kamar kostku, tentu saja dengan mengendap-endap. Terkadang, kami tidur saling tumpang tindih, membentuk posisi 69, aku tertidur dengan menghirup aroma segar kemaluannya, sedangkan Varia mengulum penisku. Di kala pagi, penisku selalu ereksi, diemut-emutnya penisku yang ereksi itu, sementara aku dengan cueknya tetap tidur sambil menikmati oralnya, terkadang aku jilat kemaluannya karena gemas.

Perjakaku di Ambil Janda

Kisah ini Ketika Aku masih duduk di bangku SMU, kira-kira 2010 awal.. sebut saja aku roby yg pda saat itu berusia 19 tahun, dan janda itu mirna 27 tahun dengan body yg mulus dan payudara 36C.. Aku yang semula hanya biasa-biasa saja bersikap pada janda itu. karena kami sering berpapasan di jalan dan bertegur sapa, muncul ide iseng yang sering kuangan-angankan kalo bertemu dengan dia.
pada awalnya aku hanya bercerita biasa, namun dia mulai menanggapi dengan tanggapan yang genit, ketika kami sedang duduk berdua saja malam itu di dalam rumahnya, ternyata mati lampu, segera saja aku menawarkan untuk menyalakan lampu teplok.
setelah aku menyalakannya, dia langsung permisi hendak mandi, tak lama lampu pun padam karena tak ada minyak nya..
lalu aku bertanya dimana dia taruh minyak lampu, lalu dia berkata di kompor masih banyak minyak nya, ambil saja.. Akupun mengambil kompor dan menuangkan kedalam literan, tak kusangka dia datang dengan hanya handuk yg melilit tubuh nya,, aku sempat terperangah melihat payudaranya yg berukuran 36Citu. lalu dia jongkok didepan ku,, aq jadi alah tingkah, tanpa sengaja kulihat gundukan hitam dibalik hamduk diantara selangkangannya..
allamak,, lebat nian bulu jembutnya,, aq terus saja memperhatikan,, sampai2 aku tak sadar kalo perbuatanku diketahuinya.
Lalu dia berkata, apa yg kamu lihat,,?
eh,, anu itu.. jawabku
anu apa..? kamu lihat punya saya ya,,? MAu..?
aku terdiam dan hanya mengangguk sedikit takut.. setelah melihat itu dia melangkah ke kamarnya dan tidak beberapa lama dia memanggilku,, mas sini sebentar.. akupun bertanya2, apa maksudnya..?
lalu aku menjawab,, ada apa.. rapi dia diam saja,,
sekali lagi dia memangil masuklah, aku udah pake baju kok, katanya. Lalu aku masuk dan tiba2 tanganku ditariknya kedalam, lalu aku lihat dua sudah tak berbusana.. dengan cepat aku menutup pintu kamar, takut ada yg lihat, lalu dia bertanya, tadi lihat ini kan,,? sambil menunjuk pada vagina nya,, aq mengangguk..
Lalu kalo sudah liat mau ngapain,,? aq diam dan dia berkata lagi, sekarang aku mau lihat punya kamu..?
aku diam dan dua langsung memegang punya ku, akupun membuka celana dan bajuku, lalu dya menciumi bibir dan merangsangku.. jujur aku tak tahan, ini pertama kali bagiku.. aku coba mengikuti irama permainannya..? bibir kami saling pagit dan aku mulai mahir mengimbanginya..
setelah agak lama kurasakan becek sekitar vaginanya.. lama2 dua bertahan dan mulai mengajakku untuk memasukkan penisku ke vaginanya,, dia melumuri penisku dengan ludah dahulu,, supaya licin katanya.. lalu dia menyuruhku untuk mulai menggoyang pinggulku,, dan rasa ternikmat baru inilah kurasakan,, dya menjerit kecil ketika penisku yg lumayan masik ke vaginanya,, ahh..ohhh…ohhh enak mas…
akupun mulai bersemangat memompakan penisku…sampai pada 30 menitan aku mulai merasakan sesuatu yg aneh pada penisku,, seolah2 ingin muntah..
aku berkata padanya,, mbak aku ada yg mau keluar,, dia menjawab buang didalam aja,, aku lagi tidak subur.. aku menembakan maniku 3x dalam vaginanya croot…croot..croot.. ahhhhhhhh.. mbak enak banget,, ternyata diapun sudah keluar juga dan kami mengulanginya sampau pagi dengan waktu yg lebih lama dari awalnya..
kini dia telah pergi ke jawa dan kami kehilangan contak..

Chating membawa nikmat

Nama saya Agus, umur 22 tahun. Cerita ini bermula dari chatting. Suatu malam karena saya merasa suntuk dan bosan, lalu saya hidupkan komputer dan mulai chatting. Iseng-iseng saya klik sebuah nama dan kami mulai pengenalan diri masing-masing. Singkat kata kami janjian ketemu di suatu tempat, dan dia bilang dia memakai pakaian putih dan bawahnya jeans. Besoknya kami ketemu dan ternyata itu teman ibu saya. Gila! langsung saja saya maunya menghindar tapi keburu dia menyapa duluan, ya sudah terpaksa deh dengan muka tebal dan sedikit merah menyapa balik. Namanya Tante D (34), orangnya cantik, tubuhnya seksi (karena setiap saya mengantar ibu saya senam, dia selalu ada di sana) buah dadanya besar, kulitnya mulus putih, pokoknya seksi habis. Saya saja waktu melihat dia pertama kali waktu dia
memakai baju senam, “adik” saya langsung bangun tidak karuan kerasnya. Apalagi sekarang berhadapan langsung sama orangnya, wah.. pokoknya tidak bisa dibayangkan deh.
Terus, dia menanyakan ibu saya,
“Mama kamu kok tidak pernah Tante liat lagi di senam, Gus?”
“Eh.. iya Tan, belakangan ini mama saya lagi sakit,” jawab saya sambil sedikit senyum.
“Ooo..” jawab Tante D.
Tiba-tiba dia menyeletuk lagi,
“Kamu suka chatting di room #**** (edited) juga yah Gus..? padahal itu room khan khusus buat tante-tante,” belum sempet saya menjawab, dia nyeletuk lagi,
“Kamu suka sama tante-tante yah Gus..?”
Tiba-tiba saja muka saya jadi merah dan rasanya mulut susah dibuka, tapi setelah menghela nafas, saya memberanikan diri,
“Iya Tan.., abis yang tua khan lebih pengalaman,” kata saya sambil tersenyum.
“Kamu bandel juga Gus..!” kata Tante D sambil tersenyum genit.
Karena di sana terlalu ramai, jadi saya diajak dia jalan-jalan pakai mobil saya (kalau pakai mobilnya dia takut ketahuan suaminya). Di jalan kami sempat ngobrol berbagai macam hal dari sekolah sampai kerjaan sambil nonton TV di mobil. Tante D ingin merubah channel TV, tapi dia salah tekan tombol. Yang ketekan malah tombol AV dan langsung saja muncul “BF” yang kemarin lupa mencabutnya dari changer (biasanya kalau lagi sama pacar saya, sering memutar blue film di mobil). Langsung saja mata Tante D setengah melotot melihat adegan “syur” yang ada di film itu (tapi saya malahan suka dengan kejadian yang tidak disengaja ini hehehe.. jadi tidak susah-susah merayu Tante D lagi). Tapi saya pura-pura sopan saja, langsung saya matikan TV-nya, tapi tiba-tiba Tante D memegang tangan kiri saya dan bilang, “Gus, kenapa kamu matikan? itu khan bagus buat pengetahuan seks!” Ya sudah tanpa basa-basi langsung saya hidupkan lagi.
Setelah beberapa menit kemudian saya lihat Tante D agak gelisah lalu saya pura-pura tanya saja,
“Tante kenapa gelisah?”
“Eh.. hmm.. tidak kok Gus..” mukanya kelihatan merah dan bicaranya sedikit tersendat-sendat.
“Gus.. kamu pernah ngelakuin yang kayak di film itu tidak?” tanya Tante D sambil menghela nafasnya yang sedikit tidak teratur.
“Belum tuh Tan.. kenapa?”
Saya tahu maksudnya tapi saya pura-pura tidak tahu saja.
“Pengen tidak kamu ngerasain yang kayak di film itu Gus..?”
Wah.. ini kesempatan bagus nih, jangan disia-siakan! Langsung saja saya jawab, tapi dengan nada polos biar tidak kelihatan seperti orang lagi kepingin, (dia khan teman ibu saya, jadi saya mesti extra hati-hati jawab pertanyaan dia!).
“Hmm.. mau Tante, emang Tante mau ajarin saya?” jawab saya dengan polosnya.
Terus dia jawab, “Mau dong Gus.. khan daun muda kayak kamu mainnya pasti kuat.”
Langsung saja dada saya jadi berdebar kencang, dan pikiran-pikiran kotor langsung mendarat di otak saya (busyet.. ini tante sepertinya hyperseks deh). Tiba-tiba “adik” saya yang tadinya tidur pulas kini sudah bangun dan berdiri kencang sehingga tampak celana saya ada gundukannya. Tante D tersenyum melihat ke arah celana saya, “Gus.. segitu saja kamu sudah nafsu, sini Tante liat, ‘adik’ kamu cakep apa tidak sih..?” Langsung saja dia mengelus-elus dan membuka resleting celana saya, sementara saya hanya bisa diam saja dan lebih konsentrasi ke depan. “Gus.. ‘adik’ kamu kuat yah.. otot-ototnya keluar, ‘adik’ kamu sering ikut fitnes dimana Gus?” tanya dia sambil bercanda dan saya hanya bisa diam dan tersenyum. Tiba-tiba rasa hangat menyelimuti kepala kemaluan saya, dan sedikit demi sedikit rasa hangat itu menjalar ke bawah menuju batang kemaluan saya. Sekilas saya lihat Tante D sedang asyik mengulum kemaluan saya yang keras dan besar itu, saya merasa melayang dibuatnya dan sesekali saya kehilangan kendali atas mobil saya. “Gus.. punya kamu gede juga yah.. Tante suka Gus.. hmm.. uhhmm..” Saya semakin kehilangan kendali, cepat-cepat saja saya pinggirkan mobil dan kebetulan tempat itu jarang dilalui orang dan agak gelap.
Setelah mobil berhenti, saya langsung membuka baju kaos Tante D dan kebetulan tidak memakai bra. Kemudian saya remas payudaranya yang besar dan empuk, dan tangan kanan saya memegang kepala Tante D sambil sesekali menekan ke bawah, “Tante.. enak.. hhss.. terusin Tan.. lebih dalem lagi..” permainan mulut Tenta D semakin mengganas sehingga menimbulkan suara yang menambah birahi, “Cproot.. cproott..” dan tiba-tiba dia menghentikan permainannya itu dan.. “Gus.. sekarang giliran kamu muasin Tante.. hmm..” Sambil mengatur nafas dia pindah ke kursi belakang, langsung saja saya ikut pindah ke belakang dan segera membuka celana jeans-nya (ternyata dia tidak memakai CD, mungkin dia sudah rencanakan hal ini sebelumnya) dengan posisi duduk menghadap ke samping dan mengangkangkan kakinya ke atas, lalu saya mainkan klitorisnya sambil satu tangan meremas-remas buah dadanya dan satunya lagi memegangi pahanya yang kiri. Tante D menggelinjang-gelinjang keenakan dan ketika lidah saya masukkan ke dalam lubang kemaluannya, dia menekan kepala saya lebih masuk lagi sambil berkata, “Hhmm.. enak sayang, lebih masuk lagi.. oohhmm..” ‘Adik’ saya sudah tidak tahan lagi dan langsung saja saya rubah posisi satu kaki di kursi yang satunya lagi di bawah, dan saya tuntun kemaluan saya memasuki lubang kenikmatan itu. “Bless..” karena lubang itu sudah dipenuhi oleh ludah saya jadi agak sedikit gampang memasukkan setengah dari kejantannan saya, baru sepertiga kejantanan saya masuk. Tante D sudah mengerang kesakitan bercampur nikmat, “Hhmm.. oohh.. Gus punya kamu tidak muat di Tante yah.. pelan-pelan Gus..” Sedikit demi sedikit saya masukkan dan berkat pelumas yang dikeluarkan Tante D akhirnya semuanya amblas masuk. Jeritan dia semakin menjadi-jadi ketika saya sodokkan lebih cepat dan cepat.
Sambil memainkan buah dadanya yang mungkin 36B, gerakkan saya semakin mengganas dan tentu saja Tante D yang sudah berpengalaman itu membalasnya dengan goyangan yang erotis. Tiba-tiba tubuh Tante D menjadi kaku dan memperlambat gerakannya, dia pegangi pantat saya sambil menggerakkan ke dalam, dan ternyata Tante D mencapai puncak nikmatnya, “Oohh.. oohh.. Gus.. hmm..” Karena saya belum mencapai puncak, jadi saya suruh Tante D merubah posisi jadi menungging, dan dia menurut saja, timbullah ide gila yang selama ini didamba-dambakan yaitu memasuki di lubang duburnya. Tanpa basa-basi langsung saja saya tancapkan berawal kepalanya dulu, tiba-tiba dia kaget, “Gus.. kamu mau masukin lubang dubur Tante yah!” Tanpa menghiraukan kata dia, saya langsung masukkan jari saya ke dalam lubang kemaluannya yang dibasahi oleh maninya. Ketika saya keluarkan jari saya, tampak mani yang kental membasahi jari saya dan langsung saya masuki ke lubang kemaluan Tante D dan dan dia mengerang pasrah, setelang lubang itu agak membesar dan dipenuhi mani sebagai pelicin saya kembali lagi mencoba menerobos masuk dan akhirnya berhasil.
Tante D kembali mengerang, “Acchh.. ooacchh..” Kembali saya menghujam dengan penuh nafsu sambil memainkan puting susunya yang keras, saya mengerang keenakan seakan-akan kemaluan saya ada yang menyedot dan menggenggam erat dari dalam, “Acchh.. achh.. enak Tan..?” tanya saya. “Enak sayang.. occhh.. terusin saja..” dan sampailah pada akhirnya dari dalam saya merasakan ada yang mau menerobos keluar, dan langsung saja saya cabut dan arahkan kemaluan saya ke mulut Tante D, dia membalikkan tubuhnya dan mulai mengocok dan sesekali menjilatnya,
“Cproot.. cproot..”
“Cepetan dong keluarnya sayang!”
“Cproot.. cproot..”
“Oocchh.. sedikit lagi Tante.. hhuu.. aghh..”
Dan akhirnya puncak kenikmatan datang dan menyembur masuk ke mulut Tante D lalu saya dorong masuk ke dalam mulut Tante D. Dia dengan lahapnya menghisap kepala kemaluan saya dan sesekali mengeluarkan mani saya. Akhirnya kami berdua berpelukan sambil saling pagutan dan lidah Tante D terasa sedikit asin akibat air mani saya.

Amung

Label