Pages

Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Thursday, October 24, 2013

Keserasian Penggunaan Kata dalam Al-Quran

Tidak ada suatu bacaan (kitab suci) yang dibaca oleh ratusan juta orang, yang faham maksudnya maupun tidak, serta bacaan yang dihafal oleh orang dewasa, remaja dan anak-anak, huruf demi huruf, dari awal sampai akhir kecuali al-Qur’an.





 
Tidak ada suatu bacaan yang dibahas dengan menggunakan pelbagai disiplin ilmu, serta bacaan yang terpadu dalam keindahan bahasa, ketelitian dan keseimbangannya, terpadu kedalaman makna, kekayaan dan kebenarannya, serta kemudahan dalam memahaminya serta kehebatan kesan dan pesan yang ditimbulkannya kecuali al-Qur’an.
 
Juga tidak ada suatu bacaan yang dihitung, bukan hanya ayat-ayatnya akan tetapi huruf-hurufnya juga. Tidak ada suatu bacaan sebanyak kosakata al-Qur’an yang berjumlah 77.439 kata, dengan jumlah huruf 323.015, huruf yang seimbang dengan kata-katanya, baik antara kata dengan padanannya, maupun kata dengan lawan kata dan dampaknya kecuali al-Qur’an. ” (M.Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, 2000, 3-5)
 
Al-Qur’an merupakan kitab suci yang terbukti tidak akan pernah lekang dimakan oleh zaman. Setelah diturunkan 1400-an tahun yang lalu, tidak satupun redaksinya berubah, semuanya sama persis seperti aslinya. Bahkan al-Qur’an yang beredar sekarang isinya pun sama seperti pembukuan al-Qur’an pada zaman khalifah Utsman bin Affan. Al-Qur’an adalah kitab yang penuh dengan keajaiban, termasuk informasi-informasi yang menakjubkan tentang ilmu pengetahuan.
 
Di antara banyak kemukjizatan al-Qur’an yang dapat menjadi bukti kebenarannya adalah aspek keindahan dan ketelitian redaksi-redaksinya. Di samping itu juga, keserasian jumlah kata-katanya yang dapat dijadikan sebagai keotentikan al-Qur’an. Jadi, segala usaha yang dilakukan oleh siapa saja yang hendak memalsukan al-Qur’an sangat mudah diketahui, ketika kata-katanya tidak menunjukkan keserasian sama sekali.

Oleh karena itu, keserasian kata yang digunakan oleh al-Qur’an, memberikan suatu pelajaran yang sangat berharga bagi manusia bahwa hidup ini memerlukan keseimbangan.
 
Keserasian kata al-Qur’an dapat dilihat pada keseimbangan antara jumlah bilangan kata, jumlah kata yang menunjukkan akibat, menunjukkan sinonim dan antonimnya. Masing-masing kata mempunyai pasangannya tersendiri. Penentuan dan peletakan kata ditempatkan pada tempatnya yang tepat. Tidak bertentangan antara satu dengan yang lainnya.
 


Fakta  Menakjubkan
Berikut ini penulis akan menjelaskan, bagaimana keserasian kata dan fakta yang menakjubkan dari al-Qur’an:
  • 1. Kata Malaikat terulang sama seperti kata Syaitan sebanyak 88 kali. begitu juga dengan kata yang menunjuk utusan Allah SWT, baik itu Rasul, atau Nabi, atau Basyir (pembawa berita gembira), maupun Nadzir (pemberi peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini sama dengan jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut, yaitu sebanyak 518 kali.
  • 2. Kata al-hayah (kehidupan) terulang sama seperti kata antonimnya yaitu al-mawt (kematian), sebanyak 145 kali.
  • 3. Kata akhirat terulang sama seperti kata dunia sebanyak 115 kali.
  • 4. Kekufuran terulang sama seperti keimanan, sebanyak 25 kali.
  • 5. Al-Qur’an menjelaskan bahwa langit ada “tujuh”. Penjelasan ini diulangi juga sebanyak tujuh kali, yaitu di dalam surat al-Baqarah: 29, al-Isra’: 44, al-Mu’minun: 86, Fushshilat: 12, al-Thalaq: 12, al-Mulk: 3, dan Nuh: 15.
  • 6. Kata dingin (al-bard) dan panas (al-harr) masing-masing terulang sebanyak 4 kali.
  • 7. Kata infaq terulang sebanyak kata yang menunjuk dampaknya yaitu ridha (kepuasan), masing-masing 73 kali. Pun sebaliknya, kata bukhl (kikir) sama dengan akibatnya yaitu hasarah (penyesalan), masing-masing 12 kali.
  • 8. Kata yaum (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun. Sementara kata hari yang berbentuk plural (ayyaam) atau dua (yaumaini), jumlah keseluruhannya hanya 30 kali, sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Begitu juga dengan kata yang berarti bulan (syahr) hanya terdapat 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun (untuk maklumat lebih detailnya, (silakan lihat Abdurrazaq Naufal, al-I‘jaz al-‘Adadi li Al-Qur’an al-Karim, 1987, ed.V).
  • 9. Seringkali di dalam al-Qur’an ditemukan kata syams (matahari) yang selalu digandengkan dengan kata dhiya’ (sinar atau cahaya), dan qamar (bulan) digandengkan dengan kata nur (cahaya), lihat QS Yunus [10]: 5. Arti keduanya walaupun mempunyai kesamaan, akan tetapi pada hakikatnya keduanya berbeda. Kata dhiya’ yang digandengkan dengan matahari, sebab matahari mempunyai atau cahayanya berasal dari dirinya sendiri. Sementara nur yang digandengkan dengan qamar (bulan), dikarenakan cahaya bulan merupakan pantulan dari cahaya matahari, (lihat Tafsir al-Baydhawi (w.951 H), 1998, v.1, 185). Fenomena saintifik seperti ini telah dibuktikan oleh al-Qur’an selama ribuan tahun yang lalu, bahkan sebelum manusia mengenal teknologi yang canggih seperti sekarang sekalipun.
  • 10. Seringkali ditemukan di dalam al-Qur’an kata zulumat (kegelapan) menggunakan bentuk jamak (plural), sedangkan antonim dari kegelapan yaitu nur (cahaya/kebenaran) menggunakan bentuk tunggal (diantara ayat yang menyatakan demikian, lihat QS al-Ahzab: 43; al-Hadid, 9). Kata zulumat (kegelapan) digunakan dalam bentuk jamak (plural), sebab sumber kegelapan itu bermacam-macam, boleh jadi berasal dari kebodohan, kesesatan, kekufuran, kebatilan, hawa nafsu, kesalahan, dosa dan lain sebagainya. Sedangkan nur menggunakan bentuk tunggal, dikarenakan sumber cahaya/ kebenaran, hanya berasal dari sumber yang satu, yaitu Allah SWT (lihat tafsir Ibn Kathir (w.774 H), 1999, v.6, 426; v.8, 10-11) 
  • 11. Seringkali ditemukan di dalam al-Qur’an, ketika Allah SWT menggunakan kata ja’ala (menjadikan), pasti di dalamnya terkandung banyak sekali manfaat bagi manusia dan seluruh makhluk-Nya yang ada di muka bumi ini. Seperti firman Allah SWT, ”Allah menjadikan bumi sebagai hamparan (mihada)” (QS al-Naba’ [78]: 6).
Manfaat dari bumi yang dihamparkan diantaranya adalah Allah menjadikan bumi sebagai tempat yang siap untuk dipakai, untuk dihuni, dihamparkan seluas-luasnya dan teratur. Dan pula, bumi dijadikan tempat untuk istirahat dan tempat tidur. “Gunung-gunung sebagai pasak (awtada)” (QS al-Naba’: 7). Manfaat dari gunung dijadikan sebagai pasak di antaranya adalah untuk menahan bumi supaya menjadi kokoh. Gunung juga mempunyai fungsi penting dalam menjaga kestabilan kerak bumi, dan dapat mencegah goyahnya tanah. “Allah menjadikan tidurmu untuk istirahat” (QS al-Naba’: 9). Manfaat dari tidur di antaranya adalah dapat mengembalikan kondisi fisik dan metabolisme yang terjadi selama beraktifitas.
Pada saat tidur, sel otak akan mengalami proses penguatan dan ingatannya akan menjadi bertambah kuat. Fisik akan menjadi fresh dan penat akan hilang. “Dan siang dijadikan untuk mencari penghidupan” (QS al-Naba’: 11). Maksudnya pada siang hari manusia dapat mencari rejeki atau nafkah baik berupa makanan, minuman maupun uang dll.

  • 12. Begitu juga di tempat yang lain dalam surat al-Rum [30]: 21, Allah SWT berfirman, “Dijadikan-Nya diantaramu (suami dan istri) rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah).” Ayat ini mengindikasikan bahwa manfaat dari sebuah pernikahan adalah dapat menumbuhkan kedekatan hati, cinta dan kasih sayang antara suami dan istri. Dapat merasakan kebahagiaan, ketenangan dan ketentraman. Pernikahan juga dapat memperbanyak jumlah kaum Muslimin berupa keturunan (Imam al-Qurthubi (w.671 H), Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an, 1964, v.16, 300). Di antara manfaat dari sebuah pernikahan juga adalah dapat menjaga nasab, menundukkkan pandangan keduanya, menjaga kemaluan, dan lain sebagainya.
 


Demikianlah segelintir contoh yang telah dinyatakan oleh Al-Qur’an. Setelah mengetahui  keserasian, keseimbangan dan penggunaan kata serta fakta-fakta yang terdapat di dalamnya, tentu semuanya bukan merupakan sesuatu yang kebetulan.
 
Penggunaan kata di dalam al-Qur’an mempunyai intelegensia di luar nalar dan jangkauan manusia. Mustahil bagi Nabi Muhammad SAW mengetahui informasi-informasi tersebut dengan sendirinya, tanpa ada petunjuk dari Allah SWT.
 
Maka tidaklah heran kalau Al-Qur’an menantang siapa saja yang meragukan kebenarannya. Apalagi hanya sekadar merespon statemen-statemen murahan yang menyatakan Al-Qur’an adalah karangan manusia, hasil dari produk budaya dan menyatakan bahwa ia sama seperti teks-teks biasa lainnya.
 
Melalui penjelasan di atas tadi, setidaknya al-Qur’an telah mengajarkan kita bahwa kata, konsep dan istilah harus digunakan dan ditempatkan pada tempatnya yang tepat. Jika tidak, kesalahan dalam penempatan kata, konsep maupun istilah, akan berakibat fatal. Karena, dari sanalah kerancuan dan kekeliruan akan muncul, sehingga jauh dari tujuan yang sebenar. Wallahu a’lam bish-shawab.

Tuesday, October 15, 2013

Sejarah haji

Dari segi sejarah, ibadah haji ialah syariat yang dibawa oleh junjungan Nabi kita Muhammad S.A.W. sebagai membaharui dan menyambung ajaran Nabi Allah Ibrahim A.S. Ibadat haji mula diwajibkan ke atas umat Islam pada tahun ke-6 Hijrah, mengikut haul yang mashur iaitu dengan turunnya ayat 97 surah Al-Imran yang bermaksud :
" Dan Allah Taala mewajibkan manusia mengerjakan ibadat haji dengan mengunjungi Baitullah iaitu sesiapa yang mampu dan berkuasa sampai kepada-Nya dan sesiapa yang kufur dan ingkar kewajipan haji itu, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dan tidak berhajatkan sesuatu pun daripada sekelian makhluk".
Pada tahun tersebut Rasulullah S.A.W. bersama-sama lebih kurang 1500 orang telah berangkat ke Makkah untuk menunaikan fardhu haji tetapi tidak dapat mengerjakannya kerana telah dihalang oleh kaum Quraisy sehinggalah mewujudkan satu perjanjian yang dinamakan perjanjian Hudaibiah.

Perjanjian itu membuka jalan bagi perkembangan Islam di mana pada tahun berikutnya ( Tahun ke-7 Hijrah ), Rasulullah telah mengerjakan Umrah bersama-sama 2000 orang umat Islam. Pada tahun ke-9 Hijrah barulah ibadat Haji dapat dikerjakan di mana Rasulullah S.A.W. mengarahkan Saidina Abu Bakar Al-Siddiq mengetuai 300 orang umat Islam mengerjakan haji.
RASULLULLAH S.A.W MENUNAIKAN HAJI
Nabi kita Muhammad S.A.W telah menunaikan fardhu haji sekali sahaja semasa hayatnya. Haji itu dinamakan "Hijjatul Wada'/ Hijjatul Balagh/ Hijjatul Islam atau Hijjatuttamam Wal Kamal kerana selepas haji itu tidak berapa lama kemudian baginda pun wafat. Baginda telah berangkat ke Madinatul Munawwarah pada hari Sabtu, 25 Zulkaedah tahun 10 Hijrah bersama isteri dan sahabat-sahabatnya seramai lebih 90,000 orang Islam.
Baginda telah menyempurnakan amalan-amalan sunat Ihram, memakai ihram dan berniat ihram di Zulhulaifah, sekarang dikenali dengan nama Bir Ali, 10 km daripada Madinah dan baginda sampai di Makkah pada 04 Zulhijjah setelah mengambil masa 9 hari dalam perjalanan. Baginda berangkat ke Mina pada 08 Zulhijjah dan bermalam di situ.
Kemudian ke Arafah untuk berwukuf pada 09 Zulhijjah yang jatuhnya pada hari Jumaat. Rasulullah S.A.W telah menyempurnakan semua rukun dan wajib haji hingga 13 Zulhijjah. Dan pada 14 Zulhijjah, Rasulullah S.A.W telah berangkat meninggalkan Makkah Al-Mukarramah menuju balik ke Madinah Al-Munawwarah.
PERISTIWA SEMASA HIJJATUL WADA'
Di masa wukuf terdapat beberapa peristiwa penting yang boleh dijadikan pegangan dan panduan umat Islam telah berlaku, di antara ialah seperti berikut :
  1. Rasulullah S.A.W minum susu di atas unta supaya dilihat oleh orang ramai bahawa hari itu tiada puasa atau tidak sunat berpuasa pada hari wukuf.
  2. Seorang Sahabat jatuh dari binatang tunganggannya lalu mati, Rasulullah S.A.W. menyuruh supaya mayat itu dikafankan dengan 2 kain ihram dan tidak membenarkan kepalanya ditutup atau diwangikan jasad dan kafannya. Sabda Baginda pada ketika itu bahawa " Sahabat itu akan dibangkitkan pada hari kiamat di dalam keadaan berihram dan bertalbiah".
  3. Rasulullah S.A.W. menjawab soalan seorang ahli Najdi yang bertanyakan " Apakah itu Haji ?". Sabdanya yang bermaksud " Haji itu berhenti di Arafah". Siapa tiba di Arafah sebelum naik fajar 10 Zulhijjah maka ia telah melaksanakan haji.
  4. Turunnya ayat suci Al-Quranul Karim surah Al-Maidah yang bermaksud :
" Pada hari ini aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu dan aku telah cukupkan nikmatku ke atas kamu dan aku telah redha Islam itu menjadi agama untuk kami"
Daripada sejarah dan peristiwa ringkas itu cubalah kita teliti betapa Rasulullah S.A.W telah menyempurnakan haji dengan pengorbanan Baginda bersama sahabat-sahabat yang berjalan dari Madinah Al-Munawwarah ke Makkah Al-Mukarramah selama 9 hari berbanding pada hari ini kita menaiki kapal terbang yang boleh sampai ke Tanah Suci kurang daripada 9 jam. Ini perkara yang perlu direnungkan apabila kita menghadapi sebarang kesusahan di tanah Suci kelak.

Makna Dan Nilai Ibadah Haji Dan QURBAN Perspektif Ritual Dan Sosial

 I. Muqaddimah
Ada tiga peristiwa besar yang terjadi pada bulan Dzulhijjah (bulan ke dua belas qomariyah) yaitu pertama pelaksanaan ibadah haji, kedua hari raya ‘idul adha, dan ketiga adalah pelaksanaan dari udhiyah atau penyembelihan hewan qurban itu sendiri. Ketiga ibadah ini satu sama lain saling terkait, bahkan idhul adha sendiri sesungguhnya memiliki keterkaitan makna dengan ‘dhul fithri. Begitu besar dan sakralnya perayaan idul adha, umat Islam selalu menyambutnya dengan gegap gempita dan penuh suka cita. Lantunan takbir menjelang ‘idul adha selalu bergemuruh dan menggema menembus langit-langit dunia mengiringi perginya senja hari pelaksanaan shalat ‘idul adha. Sekaligus mengawal sembelihan hewan qurban yang menjadi hari raya ini. Umat Islam pun tenggelam ke dalam ceruk penghayatan ritus ibadah yang sarat makna.

Meningkatnya kesadaran religius umat Islam yang ditandai dengan menggelembungnya kuantitas hewan qurban merupakan fenomena yang menggembirakan. Namun tampak ironis, dalam rentang waktu yang nyaris bersamaan kualitas moral mengalami pemandulan jika mengamati kondisi sosial masyarakat saat ini yang sedang sakit parah untuk tidak menyebut kronis.
Qurban bahkan ‘idul adha itu sendiri seringkali hanya dipahami sebatas ibadah ritual keagamaan yang rutin. Artinya, setiap umat Islam yang melaksanakan ibadah qurban dan shalat ‘idul adha hanya mengharap pahala atau surga. Setiap yang melakukan ibadah qurban yang terbayang selalu besarnya pahala dan nikmatnya masuk surga akibat imbalan dari perbuatan qurban yang pernah dilakukan. Adapun nilai atau makna ritual dari ibadah qurban apalagi makna sosialnya seringkali terlupakan. Akibat nyata yang dirasakan, ibadah qurban tidak mampu melahirkan nilai praktis dalam kehidupan masyarakat.
II. Makna Spiritual dalam Ibadah Kurban
Jika kita membaca kisah Nabi Ibrahim a.s. dan Ismail a.s. yang merupakan akar sejarah diturunkan ibadah qurban ini kepada kita sampai hari ini, maka kita menemukan makna spritualitas yang sangat tinggi. Secara spiritual, apa yang diteladankan oleh Nabi Ibrahim a.s. dan Ismail a.s. itu, menunjukkan kepasrahan atau kepatuhan yang total dari hamba kepada Allah dalam menunaikan ibadah.
Ternyata kepatuhan atau kepasrahan tersebut bukan untuk Tuhan melainkan untuk manusia itu sendiri. Setiap ibadah memang menuntut adanya totalitas kepasrahan dan kepatuhan. Inilah yang disebut beribadah dengan ikhlas, tanpa pamrih kecuali karena Allah semata. Ini bermakna bahwa kita dalam beribadah tidak boleh terpecah-pecah, atau tidak ikhlas, ingin pamer atau dianggap memiliki tingkat ibadah yang tinggi. Ibadah yang ikhlas dan pasrah adalah jauh dari riya’ (agar dilihat orang ), sum’ah (agar didengar orang lain) sehingga tidak hanya lillah ta’ala melainkan juga billah ta’ala.
Makna spritualitas lain adalah keberanian menanggung resiko yang berat sebagai bentuk kecintaan kepada Allah S.W.T., melebihi kecintaan kepada yang lainnya. Harta, kedudukan, bahkan jiwa, tak ada artinya jika demi mahabbah atau cinta yang abadi kepada Allah. Inilah sikap bertauhid yang murni dan sekaligus menunjukkan keimanan dan ketaqwaan yang tinggi.
Nabi Ibrahim dan Ismail telah membuktikan, agar manusia Muslim jangan sampai terpenjara oleh kecintaan kepada dunia (harta, kedudukan, jiwa raga) secara berlebihan dan membawa dirinya lupa kepada hakikat dan tujuan hidupnya yang sejati yakni memperoleh keridhaan Allah.
Kata qurban itu sendiri mengandung makna dekat. Sehingga ibadah qurban upaya mendekatkan diri kepada Allah S.W.T., Inti ibadah qurban adalah menguji kesadaran dan sejauh mana segala pola fikir, pola tindak kita benar-benar sejalan dengan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Karakter orang yang dekat dengan Allah adalah orang yang sanggup melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan Allah S.W.T. (imtisalu al-awamir wa ijtinab al-nawahi).
Maka qurban dalam pengertian Islam merupakan sarana mendekatkan diri kepada Allah lewat binatang ternak yang disembelih. Dengan menyembelih binatang ternak seorang muslim pada hari raya idul adha dan hari-hari tasyrik telah merelakan sebagian harta yang dimilikinya sebagai realisasi ketaatannya kepada perintah Allah dalam al-Qur’an, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah“. (Q.S. al-Kautsar [108]: 1-2). Karena itu, qurban dalam Islam hanyalah sebagai perlambang saja, sebab yang terpenting ketulusan hati untuk melaksanakan ibadah itu sebagai rasa syukur kepada Allah S.W.T.  Dengan berqurban dalam konteknya yang lebih luas akan membangun eksistensi manusia yang sejati, manusia yang menyandang staus Abdullah dan khalifatullah (hamba Tuhan dan wakil Tuhan di permukaan bumi ini.
III. Makna Sosial dalam Ibadah Qurban
Setiap yang disyariatkan Allah kepada hambanya di samping memiliki makna dalam konteks relasi hamba dengan Rabb-nya seperti disebutkan di atas, juga selalu memiliki makna dalam kehidupan sehari-hari dalam konteks relalsi hamba dengan hamba. Sehingga setiap yang disyariatkan Allah kepada hambanya, pasti memiliki makna dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah qurban di samping memiliki makna ritual juga mengandung makna sosial. Artinya, umat Islam yang melaksanakan qurban atau umat Islam lain yang tidak berqurban tetapi mereka merayakan idul qurban sudah seharusnya berupaya mengambil makna yang ada dalam ibadah qurban agar umat Islam benar-benar dapat mengimplementasikan nilai atau makna ibadah qurban dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah qurban yang dirayakan setiap tahun oleh umat Islam hanya sampai di bibir saja, hanya sampai pada proses penyembelihan hewan qurban saja, bahkan sangat ironis ibadah qurban hanya dijadikan arena pesta pora makan-makan bagi masyarakat.
Ibadah qurban haruslah dimaknai sebagai pendidikan kepada orang yang mampu untuk memberikan sebagian harta kekayaannya kepada umat yang membutuhkan (miskin). Dengan harapan dapat meringankan beban penderitaan bagi kaum lain yang masih dalam kemiskinan. Membantu agar meringankan beban orang lain tidak selalu dengan harta kekayaan, melainkan bisa dengan kemampuan intelektual (konseptual). Orang yang tidak memiliki harta tetapi memiliki kualitas intelektual maka mereka harus membantu meringankan beban dengan pikiran.
Semangat membantu meringankan penderitaan sesama manusia adalah substansi qurban yang perlu dikedepankan. Orang yang tidak memiliki semangat untuk membantu meringankan beban penderitaan orang lain meskipun mereka setiap tahun melaksanakan penyembelihan hewan qurban, belum dapat dikatakan telah melaksanakan ibadah qurban. Sebaliknya, meskipun seseorang itu tidak pernah menyembelih hewan qurban tetapi memiliki semangat dan selalu memberi bantuan kepada orang lain yang membutuhkan berarti mereka telah melaksanakan ibadah qurban.
Ibadah qurban juga mengandung makna agar umat Islam dalam kehidupannya selalu membunuh, membuang jauh-jauh sifat-sifat binatang yang bersarang dalam dirinya. Karakter dominan dari binatang adalah tidak memiliki rasa kebersamaan atau persatuan-kesatuan, hanya mementingkan isi perut (kenyang), tidak mengenal aturan, norma atau etika.
Qurban bukan semata-mata hanya cukup dengan menyembelih hewan qurban, justru yang sangat penting adalah bagaimana manusia benar-benar mampu membuang jauh-jauh segala mentalitas yang dimiliki binatang dari dalam dirinya. Imam Al-Gazali menyebut, ada dua sifat yang selalu bergejolak dalam diri manusia, yaitu sifat malaikatiyah dan sifat hewaniyah. Sifat malaikatiyah selalu mengajak untuk berbuat positif, sedang sifat hewaniyah selalu mengajak untuk berbuat jahat. Substansi qurban berarti upaya untuk mengoptimalkan sifat malaikatiyah dan menghilangkan sifat hewaniyah.
Untuk itulah, ibadah qurban sudah sepantasnya dijadikan momentum yang sangat berharga untuk menggerakkan dan mengembangkan kesadaran sosial bagi sebagian orang yang memiliki aset ekonomi memadai agar melakukan pemerataan kesejahteraan. Hewan qurban hanyalah repesentasi dari keniscayaan berqurban yang lebih besar bagi kepentingan masyarakat. Dengan demikian, wujud kecintaan kepada Allah dapat dimanifestasikan dalam kecintaan kepada sesama manusia.
IV. Makna Usaha dan Perjuangan dalam Ibadah Haji dan Qurban
Kehidupan kita di Indonesia sampai saat ini masih diwarnai dengan berbagai persoalan yang semakin kompleks sehingga tidak mudah menghadapi dan mengatasinya, baik di bidang sosial, ekonomi, hukum, politik, pertahanan dan keamanan maupun budaya. Bila dipandang dari sisi ajaran Islam, maka kita bisa merasakan dan harus kita akui bahwa kesulitan dalam menghadapi dan mengatasinya karena terjadi kesenjangan yang begitu besar antara pengakuan kita sebagai muslim dengan realitas kehidupan yang kita jalani, karenanya keindahan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin nampak terhalang oleh “kabut” sikap dan prilaku umat Islam yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam itu sendiri.
Hari raya ‘id al-adha tidak lepas dari simbol-simbol pelaksanaan ibadah haji untuk menjadi pedoman kita dalam menghadapi berbagai persoalan sosial dan individual karena haji merupakan rukun Islam yang kelima mengandung pengamalan nilai-nilai kemanusiaan universal. Pengamalan ini bermula dari kesadaran akan fithrah atau jati diri manusia serta keharusan menyesuaikan diri dengan tujuan kehadiran di pentas bumi ini dan berpegang kepada syari’ah.
Kemanusiaan menjadi salah satu implementasi peran manusia sebagai makhluk fungsionil yang bertanggung jawab. Dalam ibadah haji focus tertuju pada Baitullah (Ka’bah) sebagai simbol persatuan dan kesatuan umat Islam secara internasional. Tetapi selain simbol persatuan dan kesatuan, Ka’bah itu sendiri mengandung makna eksistensi kemanusiaan. Misalnya, pada bagian dari ka’bah terdapat hijr Ismail putra Ibrahim. Ismail pernah hidup dalam suka dan duka bersama ibuda Hajar pada saat ditinggal ayahanda Ibrahim. Hajar adalah seorang ibu yang penuh kasih sayang terhadap anaknya, penuh ketenangan dan keluhuran. Ia adalah seorang wanita hitam, miskin dan bahkan budak. Namun demikian budak wanita ini ditempatkan oleh Allah S.W.T., di sana untuk menjadi pelajaran bahwa Allah memberi kedudukan untuk seseorang bukan karena keturunan atau status sosialnya, tetapi karena ketaqwaannya kepada Allah dan usahanya untuk hijrah dari kejahatan menuju kebaikan, dari keterbelakangan menuju peradaban.[1]
Wanita yang bernama Hajar kembali muncul pada amalan sa’iy, sosok wanita bersahaja yang diperisterikan Nabi Ibrahim a.s. diperagakan pengalamannya mencari air untuk putranya. Sebetulnya keyakinan wanita ini akan kebesaran dan kemahakuasaan Allah, sedemikian kokoh jauh dari sebelum  peristiwa pencarian itu. Ketika bersedia ditinggal bersama anaknya di suatu lembah yang tandus. Keyakinannya yang begitu dalam tidak menjadikannya berpangku tangan dengan hanya menunggu turunnya hujan dari langit. Tetapi, ia berusaha dan berjuang mempertahankan kehidupan.
Hajar memulai melakukan usahanya dari bukit Shafa yang arti harfiyahnya adalah kesucian dan ketegaran, sebagai lambang bahwa untuk mencapai hidup harus dengan usaha yang dimulai dengan kesucian dan ketegaran dan harus  diakhiri di bukit Marwah yang berarti ideal manusia, sikap menghargai, bermurah hati, dan memaafkan orang lain.
Kalau pada amalan thawaf menggambarkan larut dan meleburnya manusia dalam hadirat Ilahi, maka pada amalan sa’iy menggambarkan usaha manusia mencari hidup, yang dilakukan selesai thawaf agar melambangkan bahwa kehidupan dunia dan akhirat merupakan suatu kesatuan  dan keterpaduan.
Dengan thawaf disadarilah tujuan hidup manusia dan setelah  kesadaran itu, dimulai sa’iy antara bukit Shafa dan Marwah, mengikuti dan meniru seorang Ibu yang penuh kasih sayang terhadap anaknya. Sa’iy, dengan demikian,  menggambarkan bahwa tugas manusia adalah berupaya semaksimal mungkin dalam memperjuangkan hidupnya termasuk menjamin kelangsungan hidup keluarganya. Hasil usaha yang maksimal dan ikhlas insya Allah akan diperoleh baik melalui usahanya maupun melalui anugrah Tuhan seperti yang telah dialami Hajar a.s. bersama puteranya Isma’il, dengan ditemukannya air zamzam itu.
Mengingat kondisi negara kita yang masih dilanda krisis multidimensi banyak hal yang dapat kita ambil dari makna amalan thawaf dan amalan sa’iy antara lain rasa optimisme yang tinggi akan hari esok yang lebih baik. Berbagai krisis terutama dalam bidang ekonomi yang berkepanjangan harus dihadapi dengan rasa optimisme yang tinggi, yakin kepada Allah S.W.T., Yang Maha Pemberi rizki bahwa Dia sebenarnya telah menyediakan rizki itu kepada setiap makhluknya. Sikap optimisme ini harus berbarengan dengan usaha untuk mencari rezeki agar bisa melangsungkan kehidupan dengan baik seperti yang telah dilakukan oleh Hajar.
Dalam memperjuangkan hidup dan kehidupan diperlukan semangat berqurban dan menunjukkan realisasi pengorbanan itu sesuai dengan tingkat kemampuan kita masing-masing. Kesulitan-kesulitan hidup jangan sampai membuat kita terlalu banyak alasan untuk tidak mau berqurban bagi kemaslahatan atau kebaikan orang lain. Nabi Ibrahim a.s telah menunjukkan semangat pengorbanannya yang tiada tara. Ketika kita menginginkan kehidupan yang baik, harus ada pihak-pihak yang berqurban, karena dalam suatu masyarakat ada orang yang memiliki kelebihan dan ada yang memiliki kekurangan, yang berlebih harus mau berqurban untuk yang berkurang meskipun sebenarnya pengorbanannya itu juga untuk kepentingan dirinya sendiri.
Sikap optimisme dan berusaha secara maksimal serta sikap mau berqurban harus pula dibarengi dengan usaha mempertahankan nilai-nilai idealisme sebagaimana Ibrahim yang mempertahankan nilai-nilai kebenaran sejak beliau masih muda hingga sudah tua, ini bisa kita ambil pelajarannya saat Nabi Ibrahim a.s yang ingin menegakkan nilai-nilai tauhid dengan menghancurkan berhala-berhala yang mengakibatkan Nabi Ibrahim dihukum mati dengan cara dibakar dan akhirnya Allah S.W.T., menyelamatkannya meskipun ia dianggap sebagai orang yang zhalim oleh penguasa yang zhalim, saat itu Nabi Ibrahim masih berusia sangat muda sebagaimana diceritakan di dalam al-Qur’an, yang artinya, “Mereka berkata: “siapakah yang melakukan perbuatan (menghancurkan patung) ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim”. Mereka berkata: “kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” (Q.S. al-Anbiyâ’[21]: 59-60).
Selanjutnya bandingkan dengan Nabi Ibrahim ketika diperintah untuk menyembelih Ismail, Ibrahim saat itu sudah sangat tua, sudah kakek-kakek karena sudah lama ia ingin punya anak dari perkawinannya dengan Sarah tapi ia belum juga punya anak dan iapun akhirnya kawin dengan Hajar dan dikaruniai anak yang diberi nama Ismail. Ini semua menunjukkan kepada kita bahwa Nabi Ibrahim adalah seorang yang harus kita teladani dalam mempertahankan idealismenya pada kebenaran, beliau taat sejak muda hingga tua. Karena itu sejak muda hingga tua seharusnya kita selalu menunjukkan ketaqwaan kita kepada Allah S.W.T.
Akhirnya dapat kita simpulkan bahwa ketika krisis kehidupan terjadi, maka sebagai orang muslim, yang harus kita lakukan adalah semakin mendekatkan diri kita pada kehidupan yang islami sehingga satu-demi satu persoalan bisa kita hadapi dan kita atasi, sedangkan bila kita semakin jauh dari nilai-nilai Islam, maka krisis kehidupan bukan hanya semakin panjang tapi juga semakin menimbulkan persoalan-persoalan baru. Semoga kita semakin tabah dalam menghadapi tantangan yang sangat beragam dalam kehidupan ini.
V. Makna Kesetaraan
Sebagaimana disebutkan di atas bahwa ibadah qurban diwajibkan kepada mereka yang mampu agar kita belajar dari pengorbanan yang dulu dilakukan Nabi Ibrahim. Tuhan memerintahkan Nabi Ibrahim melalui mimpi untuk mengorbankan putra kesayangannya, Nabi Ismail.[2] Kita bisa merasakan betapa beratnya perintah yang harus dilaksanakan Nabi Ibrahim. Putra kesayangan, yang ia tunggu begitu lama kelahirannya, tiba-tiba harus ia qurbankan. Namun, karena itu adalah perintah dari Tuhan, mustahil bagi Nabi Ibrahim untuk tidak menjalankannya. Di luar dugaan, Nabi Ismail ternyata mendukung ayahnya untuk menjalankan perintah Tuhan itu. Kita semua kemudian tahu, ketika ujung pisau mengenai leher Nabi Ismail, Tuhan menggantikannya dengan seekor kambing.
Hampir seluruh ulama sepakat bahwa apa yang dilakukan oleh Ibrahim terhadap Ismail adalah bukti penyerahan diri sepenuhnya terhadap perintah Tuhan. Oleh karenanya, ajaran Ibrahim disebut sebagai ajaran Islam (penyerahan diri). Seorang mufassir modern, Muhammad Ali (1874-1951) memaknai qurban sebagai tindakan kerendahan hati dan kesabaran dalam penderitaan dan ketakjuban kepada Ilahi.
Dalam hal penyembelihan hewan sebagai simbol qurban, Ali Syari’ati memaknainya sebagai sebuah perumpamaan atas kemusnahan dan kematian ego. “Berqurban berarti menahan diri dari, dan berjuang melawan, godaan ego”. Bahkan secara lebih tegas, Muhammad Ali mengatakan bahwa qurban atau penyembelihan hewan sebenarnya adalah lambang dari penyembelihan hewan (nafsu hewani) dalam diri manusia.
Mencermati arus pemikiran dua intelektual muslim di atas, kita menjadi mengerti betapa dasyat pemaknaan ibadah qurban. Berqurban dengan menyembelih hewan tidaklah berhenti pada pemaknaan secara simbolik. Tetapi, menukik dalam ke ranah substansi ibadah qurban.
Kendati demikian, yang menarik kita cermati adalah sejarah ritual qurban sendiri. Sebab, pemaknaan ibadah qurban selama ini selalu dilekatkan kepada sosok Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Sebagaimana telah disinggung, bahwa qurban adalah ibadah simbolis untuk mengenang penyembelihan terhadap Ismail. Padahal, dalam lanskap sejarah itu ada sesosok manusia yang nyaris diabaikan peranannya, dialah Siti Hajar.
Siti Hajar dalam kanal sejarah itu adalah sosok perempuan tegar yang membenarkan mimpi Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya sebagai perintah Tuhan. Bahkan, Siti Hajar berani terang-terangan menolak bujukan setan yang memperdaya dan menghujaninya dengan batu-batu –sebuah peristiwa yang kelak diperingati dengan melempar jumrah dalam ritus ibadah haji-.
Pemaknaan kita terhadap ibadah qurban selama ini nyaris melalaikan keberadaan Siti Hajar. Jarang sekali kita menginsafi jerih payah Siti Hajar dalam membesarkan Ismail di tengah-tengah tandusnya hamparan padang pasir. Entah sengaja atau tidak, sepertinya kita menutup mata dengan segala pengorbanan Siti Hajar yang berlari tertatih-tatih naik-turun bukit Shafa dan Marwa. Oleh sebab itulah, perayaan hari raya qurban kali ini perlu menjadi momentum untuk merefleksikan pengorbanan Siti Hajar yang menjadi representasi kaum perempuan. Pemaknaan yang timpang terhadap ibadah qurban hanya akan memperpanjang perlakuan diskriminasi gender yang selama ini kerap dialami kaum perempuan.
Padahal, pada hakikatnya, Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan setara. Tinggi rendahnya martabat seseorang dihadapan Tuhan tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan nilai pengabdian serta ketaqwaannya. Pesan sejenis yang mengungkap keseteraan itu banyak sekali ditemukan dalam al-Qur’an. Hanya cara pandang dan produk pemaknaan kita sendiri yang telah mereduksi kesetaraan itu. Sehingga, kaum perempuan mengalami penderitaan dan ketidakadilan secara bertubi-tubi dalam berbagai dimensi kehidupan.
Kita tidak boleh menutup mata dari pengorbanan kaum perempuan. Perempuan nyaris selalu diidentikkan dengan ibu. Sementara ibu selalu identik dengan kasih sayang dan pengorbanan. Tak ada kata letih bagi seorang ibu dalam memberikan kasih sayangnya kepada anak-anaknya. Bahkan nyawa pun ia korbankan demi kasih sayangnya kepada buah hati. Bila dalam ibadah qurban dimaknai sebagai penyerahan diri sepenuhnya terhadap kebesaran Tuhan, maka ketika seorang ibu melahirkan, ia pun berserah diri sepenuhnya terhadap kebesaran anugerah Tuhan, bahkan dengan nyawanya sendiri.
Ibu merelakan dirinya berkorban untuk menjadi qurban. Oleh karenanya, Nabi dalam sabdanya sangat tidak berlebihan bila mengibaratkan surga ada di bawah telapak kaki ibu. Bahkan Rumi dalam syair Matsnawi-nya menyatakan bahwa perempuan pantas untuk disebut sebagai pencipta. Ia merasa telah menemukan ibu di segala tempat. Bahkan secara umum ia mengibaratkan segala sesuatu dalam kosmos ini adalah seperti ibu yang melahirkan sesuatu yang lebih tinggi.
Namun pengorbanan itu sering terlupakan oleh kecongkakan dan keserakahan nafsu manusia. Bahkan dengan mengatasnamakan agama. Agama sering dijadikan alat justifikasi untuk membenarkan kemauan nafsu manusia. Dan sekali lagi perempuan pun harus dijadikan sebagai korban keserakahan nafsu itu. Untuk itu, momentum ibadah qurban sepatutnya menjadi titik balik cara pandang kita terhadap perempuan.
Sulit dipungkiri, cara pandang diskrimintif terhadap perempuan sedikit banyak dibentuk oleh teks-teks penafsiran terhadap doktrin agama yang bersifat andocentricity. Maksudnya, bahwa dunia ini senantiasa dipandang dan dipahami dari sudut pandang kaum laki-laki. Perempuan hanya digambarkan sebagai obyek yang pasif. Semangat ibadah qurban hendaknya mampu mendekonstruksi pemahaman seperti itu, yang harus segera disadari adalah teks-teks penafsiran semacam itu memiliki pijakan konteks historis yang lain. Konteks dahulu pada saat penafsiran berbeda dengan konteks kita saat ini. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian lebih jauh terhadap penafsiran teks-teks keagamaan yang bias gender yang selama ini diterima begitu saja. Penelitian ini sangat penting karena akan menyadarkan kita untuk bersikap lebih kritis terhadap apa yang dianggap “ajaran Islam” yang ada, yang mungkin sebenarnya berasal dari budaya sebelum Islam dan bertentangan dengan ruh Islam.
Implikasi yang konkret, sikap toleran dan apresiatif terhadap perempuan akan tumbuh dalam dinamika kehidupan. Pemaknaan teks-teks agama pun nantinya akan ramah terhadap perempuan. Dengan begitu, kita bisa membantah ungkapan Moriz Winternitz, “Perempuan selalu menjadi sahabat agama, tetapi agama bukan sahabat bagi perempuan”. Nyatanya, agama Islam adalah sahabat karib perempuan.
MARÂJI’

PENGERTIAN & HUKUM IBADAH QURBAN

Qurban atau Udhiah bermaksud menyembelih haiwan yang tertentu jenisnya daripada ternakan yang dikategorikan sebagai al-an'am iaitu unta, lembu (termasuk kerbau), biri-biri dan kambing pada Hari Nahr atau Hari Raya Haji (10 Zulhijjah) dan pada hari-hari Tasyrik (11,12 dan 13 Zulhijjah) kerana bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah.
HUKUM MELAKUKAN IBADAH QURBAN
  • Imam Syafie berpendapat hukum melakukan ibadah qurban ini adalah sunat Muakkadah iaitu sunah yang amat digalakkan atau dituntut ke atas setiap individu Muslim yang merdeka, berakal, baligh lagi rasyid serta berkemampuan melakukannya sama ada sedang mengerjakan haji ataupun tidak sekurang-kurangnya sekali seumur hidup.

  • Makruh meninggalkan ibadah ini bagi orang yang mampu melakukannya.

  • Hukum qurban ini menjadikan wajib jika seseorang itu telah bernazar untuk melakukannnya atau telah membuat penentuan (at-ta'yin) untuk melaksanakannya seperti seseorang berkata "lembu ini aku jadikan qurban". Jika tidak dilakukan dalam keadaan ini maka hukumnya adalah haram. Daging qurban wajib (nazar) tidak dibenarkan untuk dimakan oleh yang empunya qurban dan tanggungannya.

Saturday, September 14, 2013

Download Tafsir Ibnu Katsir Lengkap 30 Juz Terjemahan Indonesia


Tafsir Ibnu Katsir lengkap 30 juz beserta terjemahan dalam bahasa indonesia saat ini bisa anda download full gratis melalui yusuf blog ini, tafsir Al-Quran 30 juz karya Ibnu Katsir ini bisa anda download lengkap dalam satu paket download tanpa terpisah, melalui mediafire dengan ukuran file 115 MB.

Ibnu katsir adalah seorang ulamak dan pemikir islami yang sangat terkenal dengan karya-karya tulisnya yang sangat banyak, salah satu yang sangat terkenal dari karya beliau adalah Tafsir Ibnu Katsir yang sudah sangat populer di kalangan umat islam. Sebuah kitab yang berisi tentang tafsir dari kitab suci Al-Quran.

Ismail bin katsir adalah nama asli dari Ibnu katsir, beliau lahir di Busra Suriah pada tahun 1301 dan meninggal di damaskus Suriah pada tahun 1372 dalam usia 71 tahun.

Diantara guru-guru Ibnu Katsir adalah Burhanuddin al-Fazari,beliau juga berguru kepada Ibnu Taymiyyah di Damaskus, Suriah, dan kepada Ibnu al-Qayyim. Ia mendapat arahan dari ahli hadis terkemuka di Suriah, Jamaluddin al-Mizzi, yang di kemudian hari menjadi mertuanya. Ia pun sempat mendengar langsung hadis dari ulama-ulama Hejaz serta memperoleh ijazah dari Al-Wani.


Tahun 1366, oleh Gubernur Mankali Bugha Ibnu Katsir diangkat menjadi guru besar di Masjid Ummayah Damaskus.Ibnu katsir meninggal dunia tidak lama setelah ia menyusun kitab Al-Ijtihad fi Talab al-Jihad (Ijtihad Dalam Mencari Jihad) dan dikebumikan di samping makam gurunya, Ibnu Taimiyah.

Bagi shabat Yusuf Blog yang hendak memperdalam ilmunya dalam memahami isi dari kitab suci Al-Quran, maka kitab tafsir ibnu katsir lengkap 30 juz dan terjemahan dalam bahasa indonesia ini layak untuk anda download dan miliki secara gratis.


Tafsir Ibnu Katsir Juz 1

Tafsir Ibnu Katsir Juz 2

Tafsir Ibnu Katsir Juz 3

Tafsir Ibnu Katsir Juz 4

Tafsir Ibnu Katsir Juz 5

Tafsir Ibnu Katsir Juz 6

Tafsir Ibnu Katsir Juz 7

Tafsir Ibnu Katsir Juz 8

Tafsir Ibnu Katsir Juz 9

Tafsir Ibnu Katsir Juz 10

Tafsir Ibnu Katsir Surat At Taubah (Juz 11)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Yunus (Juz 11)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Huud (Juz 12)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Yusuf (Juz 12)

Tafsir Ibnu Katsir Juz 13

Tafsir Ibnu Katsir Juz 14

Tafsir Ibnu Katsir Juz 15

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Kahfi (Juz 16)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Maryam (Juz 16)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Thoha (Juz 16)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Anbiyaa (Juz 17)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Hajj (Juz 17)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mu’minuun (Juz 18)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Ahqaaf (Juz 26)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Muhammad (Juz 26)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Fath (Juz 26)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Hujurat (Juz 26)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Qaaf (Juz 26)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Adz Dzariyat (Juz 27)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Ath Thuur (Juz 27)

Tafsir Ibnu Katsir Surat An Najm (Juz 27)

Tafsir Ibnu Katsir Surat AL Qomar (Juz 27)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Ar Rahman (Juz 27)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Waqi’ah (Juz 27)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Hadid (Juz 27)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mujadilah (Juz 28)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Hasyr (Juz 28)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al
 

Mumtahanah (Juz 28)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Ash Shaf (Juz 28)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Jumuah (Juz 28)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Munaafiqun (Juz 28)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Ath Thoghabun (Juz 28)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Ath Thalaq (Juz 28)

Tafsir Ibnu Katsir Surat At Tahrim (Juz 28)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mulk (Juz 29)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Qolam (Juz 29)

Tafsir Ibnu Katsir Surat AL Haqqoh (Juz 29)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Ma’arij (Juz 29)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Nuh (Juz 29)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Jin (Juz 29)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Muzammil (Juz 29)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mudatstsir (Juz 29)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Qiyamah (Juz 29)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Insaan (Juz 29)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mursalaat (Juz 29)

Tafsir Ibnu Katsir Surat An Naba (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat An Nazi’at (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al ‘Abasa (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat At Takwir (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Muthoffifin (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Buruuj (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Ath Thoriq (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Ghasyiyah (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Fajr (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Asy Syams (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Alamnasyrah (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat At Tin (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al ‘Alaq (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Qodr (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Bayyinah (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Zalzalah (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al ‘Adiyat (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Qaari’ah (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al ‘Ashr (Juz 30)
 
Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Humazah (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Fill (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Quraisy (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Maa’uun (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Kautsar (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Kafiruun (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat An Nashr (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Ikhlash (Juz 30)

Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Mu’awwidzatain (Juz 30)


Untuk tafsir ibnu katsir yang berbentuk file pdf berikut link download yang baru saya dapat dari juz 1 sampai juz 15:


Judul: Download Tafsir Ibnu Katsir Lengkap 30 Juz Terjemahan Indonesia; author Yusuf Batam; Rating Blog: 5 dari 5

Wednesday, August 21, 2013

13 Fakta Unik Haji

Menunaikan ibadah Haji merupakan impian setiap umat karena Haji merupakan salah satu rukun Islam, namun ternyata Haji menyimpan banyak fakta menarik. Apa saja itu ?

1. Thawaf (berputar mengelilingi Kabah)



Telah dilakukan umat sejak nabi-nabi sebelum Nabi Ibrahim. Thawaf meniru malaikat-malaikat yang mengelilingi Kabah nurani di surga. Thawaf sebagai ritual Haji ditafsirkan sebagai simbol penyatuan dengan gerak alami, seperti alam semesta yang bergerak dengan cara berputar.

2. SaI (berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah)


Dilakukan untuk mengenang istri Nabi Ibrahim, Hajar, sewaktu berjuang mencari air untuk bayi mereka yang kehausan, Ismail. Maknanya, sesungguhnya Allah menghargai setiap usaha manusia walau manusia merasa gagal. Hasil yang Dia berikan bisa datang dari arah yang tak terduga karena tidak ada usaha yang sia-sia di mata Allah.

3. Wukuf (berdiam diri di padang Arafah)


Untuk mengenang bertemunya kembali Nabi Adam dengan Siti Hawa setelah berpisah cukup lama di bumi. Adam dan Hawa diperintah Allah keluar dari Surga ke dunia karena melanggar perintahNya untuk tidak menyentuh buah khuldi.

4. Lempar Jumroh


Lempar jumrah atau lontar jumrah adalah sebuah kegiatan yang merupakan bagian dari ibadah haji tahunan ke kota suci Mekkah, Arab Saudi. Para jemaah haji melemparkan batu-batu kecil ke tiga tiang (jumrah; bahasa Arab: jamarah, jamak: jamaraat) di kota Mina yang terletak dekat Mekkah.

5. Mengambil Batu di Muzdalifah


Para jemaah haji harus mengambil batu kerikil untuk melempar jumrah. Mereka mengambil di daerah yang bernaman Muzdalifah, uniknya batu kerikil di daerah ini tidak pernah habis.

6. Jumlah jamaah Haji


Total dari seluruh dunia setiap tahun selalu meningkat, tahun 2011 sebesar 2,5 juta jamaah dari seluruh dunia. 1,8 juta berasal dari luar Arab dan 800ribu berasal dari Arab.

7. Personel keamanan khusus


Arab Saudi menyiapkan personel keamanan khusus untuk ibadah Haji sebanyak 63 ribu pasukan, 22 ribu diantaranya berasal dari sipil, dan 6000 kendaraan. Ada sekitar 20 ribu petugas kesehatan untuk membantu jamaah Haji.

8. Luas Masjidil Haram


Luas Masjidil Haram saat ini 365 ribu meter persegi. Direncanakan tahun 2020 diperluas menjadi 587.250 meter persegi. Jika di hari-hari biasa (selain musim haji) dapat menampung 900 ribu jamaah, maka di musim Haji dapat menampung hingga 2 juta-an jamaah. Saat ini sedang ditingkatkan kapasitasnya untuk dapat menampung hingga 4 juta jamaah.


9. Air zamzam


Jumlah air zamzam yang dibagikan untuk jamaah Haji mencapai jutaan liter. Air zamzam ini sudah ada sejak jaman Nabi Ibrahim. Hingga kini menjadi sumber air bersih utama di Mekkah dan belum pernah mengalami kekeringan.

10. Ka'bah


Dibangun pertama kali oleh Nabi Adam. Nabi Ibrahim menemukan kembali atas petunjuk Allah dan membangunnya ulang dibantu Nabi Ismail. Kini Ka'bah terbuat dari marmer dan granit. Pintunya terbuat dari 280 kg emas murni. Kelambu hitam yang menutupi (kiswah) terbuat dari sutra terbaik dan kaligrafinya disulam dari benang emas dan perak seberat 150 kg.

11. Kuota Haji Indonesia


Kuota Haji untuk Indonesia setiap tahunnya adalah 211 ribu jamaah, 194 ribu jamaah Haji regular dan 17ribu jamaah Haji khusus. Indonesia merupakan Negara dengan jamaah Haji terbanyak.

12. Kurma Ajwa


Kurma ini yang dahulu sering di makan Nabi Muhammad SAW. jenis kurma yang paling lezat diantara kurma lainnya. khasiat dari kurma ini adalah di yakini bisa menyembuhakn penyakit dan racun.

13. Makam Rosulloh


Makam (pusara) Rasullullah SAW terletak di sebelah Timur Masjid Nabawi. Di tempat ini dahulu terdapat dua rumah, yaitu rumah Rasulullah SAW bersama Aisyah dan rumah Ali dengan Fatimah. Sejak Rasulullah SAW wafat pada tahun 11 H (632 M), rumah Rasullullah `SAW terbagi dua.Bagian arah kiblat (Selatan) utk makam Rasulullah SAW dan bagian Utara utk tempat tinggal Aisyah.

Thursday, March 7, 2013

Fenomena Alam Semesta, Siapa Si Pencipta?

messiergalaxy1Sebelum muncul pemikiran heliosentris dari Copernicus, gereja mengadopsi pemikiran Geosentris dari Ptolomeus, yang menganggap bumi sebagai pusat peredaran benda langit. Setelah pengembangan dan penjelajahan lewat teleskop dan segala perangkat observasi astronomi yang lebih canggih maka kita kagumi bahwa tata surya kita dengan matahari sebagai pusat revolusinya hanyalah satu dari 100 milyar sistem tata surya serupa!
Bahkan Galaxy Bima Sakti tempat tata surya kita hanyalah serupa piring super mungil yang mengapung di gelap gulita angkasa raya. Bagaimanakah juga bumi, tempat kita berdomisili dibandingkan dengan semesta alam itu, perumpamaan bagaikan sebutir pasir dibanding seluruh gurun, atau bagaikan setetes air yang menempel dijemari saat kita mencelupkannya di laut dibandingkan seluruh samudera itu sendiri, perumpamaan ini belumlah mencukupi.
Teleskop yang lebih canggih dengan daya tangkap lebih kuat dan lebih jauh ditambah dengan satelit2perhitungan- perhitungan fisika astronomi menyajikan kepada kita gambaran semesta yang maha raksasa ini. Sebesar apakah sebenarnya raksasa alam semesta kita ini? Mari kita bandingkan dengan bumi, diameter bumi hanya kira-kira 12.500 km! Bandingkan dengan pulau Java yang membentang sepanjang hanya 1000 km. Dengan pesawat kecil saja bisa ditempuh kurang dari 2 jam dari ujung ke ujung. Diameter bumi kita hanya 12.5 kali panjang pulau Java! Bila seberkas sinar harus melintasi jarak sepanjang diameter itu, hanya diperlukan waktu kira-kira seperdua puluh lima detik, jadi satu detik sinar dapat melintasi diameter bumi sebanyak 25 kali, sebab kecepatan cahaya adalah 300.000 km/detik.
  • Jarak bumi ke matahari hanya 9 menit cahaya.
  • Jarak matahari ke planet terluar sistem tata surya matahari kita, Pluto, adalah 5,5 jam cahaya.
  • Diameter galaksi Bima Sakti adalah 100.000 tahun cahaya.
  • Jarak benda terjauh dari bumi yang dapat terdeteksi hasil observasi saat ini? Milyaran tahun cahaya!

Wahai, berarti cahaya saat observasi itu adalah gambaran kejadian milyaran tahun yang lalu, jauh sebelum munculnya “manusia pertama”. Bahkan berkas cahaya yang menghasilkan gambar citra galaksi Bima Sakti yang kita nikmati saat ini yang berasal dari ujung galaksi Bima Sakti adalah lebih tua umurnya daripada usia “manusia pertama” yang kita percayai.
Orang Eropa yang mempercayai idea “manusia pertama”, semula memperkirakan bahwa alam semesta baru berumur 6000 tahun. Ketika mereka mengembangkan analisa dan mengetahui bahwa perkiraan mereka salah, maka mereka memperbaiki perkiraan itu dan mengatakan bahwa bumi (juga termasuk alam semesta) telah muncul 20 juta tahun yang lalu, namun kemudian pandangan ini berubah lagi menjadi 100 juta tahun, terus berubah melalui tingkat-tingkat hingga menjadi 6000 juta tahun yang lalu! Argumentasi ini hanya menggambarkan tiada lain daripada spekulasi yang berubah-ubah, tidak lebih.
Bila jarak bumi dengan benda terjauh yang dapat teramati adalah milyaran tahun dan jarak itu dapat dianggap sebagai jari-jari alam semesta (r) maka dapat diketahui volume alam semesta, yaitu 3,14 x r x r. Dapatkah akal kita membayangkan betapa besar dan luasnya alam semesta ini? Bagaimanakah juga kita yang telah mengimani bahwa ada sesuatu yang lebih besar dan kuasa dari alam semesta ini, bagaimanakah agungnya Dia? “Super Jenius” yang yang telah menciptakan kita. Maha Suci Allah, Maha Besar Allah!permataterbesar1
Bumi kita beserta matahari dan planet-planetnya hanya merupakan satu tata surya diantara seratus milyar tata surya yang berada di galaksi Bima Sakti. Ada bermilyar-milyar galaksi di seluruh alam semesta. Sebesar itukah alam semesta? Belum, karena perhitungan di atas hanya berlaku untuk alam semesta yang teramati sesuai dengan teknologi yang ada sekarang ini. Karena sebenarnya alam semesta jauh lebih luas dari itu. Milyaran galaksi yang tampak di alam semesta ini pun hanya merupakan satu persen dari jumlah seluruh materi yang teramati di alam semesta hingga kini.
Proses kehancuran/kiamat parsial Salah satu proses alam semesta yang teramati yaitu pada proses fusi nuklir di matahari, yaitu penggabungan dua buah atom hidrogen menjadi sebuah atom helium. Dalam prosesnya membentuk unsur atom helium yang lebih besar, memancarkan energi dalam bentuk sinar dan gelombang elektromagnetik. Energi yang dipancarkan pada proses fusi nuklir ini akan dipancarkan tak terhingga jauhnya, hingga keluar dari batas jangkauan pengamatan kita.
Materi alam semesta kita akan menangkap energi yang dipancarkan dari alam semesta yang berada diluar jangkauan pengamatan kita. Yang dimaksud batas jangkauan pengamatan kita adalah, batas jangkauan teleskop yang paling canggih saat ini. Energi yang berasal dari luar jangkauan membentuk ikatan atom kembali, hukum kekekalan energi tetap berlangsung. Hal inilah yang terjadi pada masa setelah kehancuran suatu galaksi. Perlu diketahui baha di angkasa luar sana selalu terjadi proses bintang baru lahir/terbentuk (Nova) atau bintang mati / hancur, demikian juga galaksi, dalam jangka waktu tertentu mengalami proses penghancuran yang relatif teramati. Setelah terjadi akhir kehancuran galaksi/kiamat parsial, maka tidak ada bentuk yang tersisa padat maupun cair, semua berubah bentuk menjadi ion-ion dan gas, (ion adalah unsur atau molekul yang bermuatan listrik).
Kemusnahan galaksi ini bisa digambarkan sebagai pemusnahan alkohol atau minyak yang terbakar tanpa meninggalkan banyak jelaga. Jelas kita ketahui bahwa kemusnahan seperti itu hanyalah perubahan fisik (hukum kekekalan massa). Minyak terurai kembali menjadi senyawa-senyawa dan unsur-unsur penyusunnya.
Dalam proses habis terbakarnya galaksi, gas-gas dan ion-ion sisa pembakaran berputar dalam kecepatan tinggi dan menyebabkan daya tarik magnetik di pusat lingkaran menjadi sangat tingi. Ini mudah menjadi perangkap sinar, pusat lingkaran yang mempunyai daya tarik magnezik sangat tingi ini menyebabkan bahkan berkas sinar / cahaya pun tertarik kearah dinding-dinding pusat lingkaran yang bergerak menyedot ini. Oleh karena sinar yang masuk terperangkap maka sebagai akibatnya tentu saja daerah yang berada disekitar pusat gas yang merupakan sisa kehancuran galaksi nampak sangat gelap. Teori Black Hole.
Luas areal gas sisa pembakaran galaksi ini bisa mencapai radius jutaan tahun cahaya. Bandingkan dengan diameter galaksi yang kurang lebih 100.000 tahun cahaya.alberteinstein
Einstein pernah memperkirakan bahwa jalannya cahaya dalam alam semesta tidaklah benar-benar lurus, namun membentuk suatu garis lengkung. Hal ini pernah dicemooh kalangan fisikawan saat itu. Namun kini lewat perangkat observasi yang canggih hal ini terbukti bahwa bekas sinar dalam alam semesta adalah membentuk kurva, karena adanya medan magnet yang dihasilkan benda-benda langit.
Pembentukan Kembali Sifat benda-benda yang gelap cenderung menyerap sinar, sisa-sisa galaksi yang telah berubah bentuk menjadi ion dan gas pun kembali menyerap sinar yang dipancarkan oleh obyek-obyek lain yang berada di alam semesta. Energi yang telah dipancarkan oleh galaksi kita diserap pula oleh galaksi-galaksi lain dan demikian juga sebaliknya. Gas-gas dan ion-ion yang ada di lokasi bekas kehancuran galaksi, dengan bantuan energi yang terperangkap akan kembali saling mengikat dan membentuk massa yang bertambah lama bertambah besar. Gravitasi antara dua buah massa, cenderung saling tarik-menarik. Setelah selang waktu yang sangat lama sekali maka massa yang bertambah besar tersebut dengan bantuan energi yang terperangkap membentuk ikatan yang bertambah lama bertambah membesar dan akhirnya berubah menjadi serupa kabut.
Dalam astronomi kabut ini disebut Nebula yang merupakan cikal-bakal pembentuk tata-surya. Pada fase ini kabut Nebula belum memancarkan sinar, tetapi setelah mulai memancarkan gelombang elektromagnetik (gelombang radio) bisa diidentifikasikan sebagai radio galaksi. Untuk melacak keberadaan galaksi yang tidak memancarkan gelombang cahaya, tetapi memancarkan gelombang radio bisa menggunakan Teleskop Radip, contohnya seperti yang ada di Mt. Antero yang terletak di Puerto Rico. (Teleskop ini dapat anda lihat di film spionase James Bond, Golden Eye. Parabola raksasa statis yang anda saksikan di film tersebut adalah teleskop radio raksasa terbesar di dunia berdiameter 300 meter).vla_telescope
Gelombang radio dari galaksi bisa juga dideteksi dengan bantuan VLA (Very Large Array) Telescope yang terletak di dekat Socorro negara bagian New Mexico di Amerika Serikat. (Bagaimana bentuk teleskop VLA? cukup melihat film “Contact” yang dibintangi oleh Jodie Foster, yang nampak seperti antena parabola kita namun berderet banyak, sebenarnya adalah deretan teleskop radio yang menggunakan teknik interferometri) .
Partikel-partikel kabut oleh karena kohesi bergabung menjadi partikel yang lebih besar dan mulai membentuk kelompok-kelompok yang lebih besar, seperti kondensasi yang terjadi pada uap air, sehingga massa materi yang lebih kecil ditarik ke arah massa yang lebih besar. Pada saat massa yang lebih besar terbentuk, massa yang lebih kecil yang ada di sekitarnya oleh karena gaya gravitasi akan tertarik oleh massa yang lebih besar ini. Para ahli astronomi pada fase ini belum menemukan mengapa awan debu dan gas antar bintang ini collapse dan membentuk bintang, karena awan-awan ini dingin dan kerapatan molekulnya rendah (kurang lebih satu atom per cm3).
Mungkin banyak di antara pembaca yang pernah menyaksikan tingkah laku para astronot di ruang hampa udara, ruang -hampir- tanpa gaya gravitasi, yang menuangkan air tetapi air itu tidak tumpah, lalu air membulat bagai bola dan melayang, demikian juga setiap benda cair yang berada di luar angkasa, termasuk cairan yang berkumpul dari uap nebula. Pada pemampatan oleh gravitasi dan rotasi maka cairan yang sangat besar ini menjadi bagian yang lebih kecil dan padat, dimulailah pemebentukan benda-benda langit serta planet-planet. Hingga kini pun bumi kita hanyalah bagian luarnya / keraknya yang padat. Sedangkan di dalam kerak bumi masih bersifat cair. Setelah proses pendinginan yang sangat lama ini, ratusan juta tahun, mulailah beberapa materi kehidupan, tumbuhan, binatang dalam bentuknya yang paling sederhana mulai muncul.
Big Bang, Teori Ledakan Besar Mengenai awal mula alam semesta terbentuk ini, sebagian besar ilmuwan mendukung teori Big Bang. Teori ledakan besar. Melihat bahwa semua proses kelahiran dan kehancuran bagian alam semesta ini pun yang saat ini dapat diamati merupakan proses serupa yang diperkirakan para saintis. Dari ketiadaan, hingga adanya satu massa materi yang memiliki kepadatan maha padat (mis. bermilyar-milyar ton massa dalam 1 mm3), kemudian meledak serupa proses ledakan nuklir. Hingga kini ledakan itu terus berjalan, dan seperti diketahui para saintis pun mengakui bahwa alam kita ini tetap dalam proses mengembang. Seperti bila sebuah balon ditiup, dan balon tersebut memiliki kemampuan mengembang yang tidak terbatas. Alam semesta kita ini pun dalam keadaan proses demikian. Belum berhenti.
Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah satu yang padu, kemudian Kami (Allah) pisahkan keduanya, dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak juga beriman? (QS Al-Anbiya’ 21: 30).
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (kekuatan) Kami, dan sesungguhnya Kamilah yang meluaskannya.” (QS Adz Dzariyat : 47.)
QS Ali-’Imran 3 : 190-191: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil albab. Yaitu mereka yang berzikir (mengingat) Allah sambil berdiri, atau duduk atau berbaring, dan mereka yang berpikir tentang kejadian langit dan bumi

Amung

Label